BOGOR, KOMPAS.com - Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan takjil di sepanjang Jalan Pakuan, Kota Bogor, memicu keluhan sejumlah warga karena dinilai memicu kemacetan menjelang waktu berbuka puasa.
Meski meramaikan suasana Ramadhan dan memudahkan masyarakat mencari makanan berbuka, sejumlah pembeli berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menata aktivitas perdagangan di kawasan tersebut agar tidak mengganggu arus lalu lintas maupun pejalan kaki.
Salah satu pembeli takjil, Dhafie, menilai keberadaan PKL di kawasan itu perlu ditata lebih baik. Menurut dia, lapak pedagang yang memenuhi sisi jalan membuat pengendara kesulitan melintas.
Baca juga: Bolu Kukus dan Kue Mangkok Berpewarna Tekstil Ditemukan di Sentra Takjil Jalan Panjang
Ia mengakui momen Ramadhan memang menjadi waktu yang tepat bagi para pedagang untuk berjualan takjil.
"Maksudnya emang enggak bisa ditata lebih baik jadi enggak ganggu yang beraktivitas gitu?" kata Dhafie saat ditemui, Kamis (5/3/2026).
"Orang mau pulang mau buka (puasa) di rumah segala macem kan jadi telat," lanjut dia.
Keluhan serupa disampaikan pembeli lainnya, Nasution. Ia mengatakan aktivitas PKL di Jalan Pakuan kerap memicu kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan tersebut.
Senada dengan Dhafie, Nasution berharap Pemkot Bogor dapat melakukan penataan agar aktivitas perdagangan tetap berjalan tanpa mengganggu pengguna jalan.
"Jujur, ini sedikit meresahkan karena membuat macet, bukan berarti menutup rezeki orang begitu ya. Cuma, maksudnya bisa sedikit ditata lah," kata Nasution.
Menurut dia, penataan diperlukan agar lapak pedagang tidak menutup badan jalan maupun jalur pejalan kaki. Ia mengaku kerap terjebak kemacetan di kawasan tersebut hingga terlambat berbuka puasa di rumah.
"Macet doang, jadi telat buka di rumah. Bagaimana ya namanya puasa kalau misalkan lagi macet-macetan gitu kan, bete," ujarnya.
Baca juga: Sidak Takjil di Jalan Panjang Jakbar, Petugas Temukan Jajanan Pakai Pewarna Tekstil
PKL akui tutup jalur pedestrianDi sisi lain, sejumlah pedagang mengakui aktivitas berjualan mereka turut berkontribusi terhadap kemacetan di kawasan tersebut.
Salah satu pedagang yang akrab disapa Oweng (55) mengatakan, ia menyadari berjualan di tepi jalan hingga menutup jalur pedestrian bukan kondisi yang ideal.
"Ya, yang namanya kami juga di pinggir jalan ya, kami juga termasuk salah juga kan di pinggir jalan juga kan. Kami juga yang bikin macet juga kan istilahnya," kata Oweng saat ditemui, Kamis (5/3/2026).
Meski demikian, ia berharap Pemkot Bogor dapat melakukan penataan agar aktivitas perdagangan tetap berjalan dengan lebih tertib.
Pedagang lainnya yang akrab disapa Cemen (40) juga menilai penataan perlu dilakukan di sepanjang Jalan Pakuan.
"Ya, biar enggak terlalu macet atau semrawut lah," ujarnya di Jalan Pakuan.
Cemen mengaku hingga kini belum ada tempat relokasi bagi para pedagang di kawasan tersebut. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menata keberadaan PKL.
"Iya, mau enggak mau. Biar enggak macet juga. Emang kalau setiap bulan puasa di sini macet pastinya," tutur dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




