Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memprediksi jumlah penumpang pesawat domestik akan terdongkrak sebesar 5% dari periode Lebaran tahun lalu.
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menyampaikan, tidak seperti momen Nataru yang jumlah penumpang domestik kontraksi, untuk momen Hari Raya Idulfitri terdapat potensi sedikit lebih tinggi.
Menurutnya, peningkatan tipis secara nasional tersebut tertekan oleh banyaknya masyarakat yang beralih dari moda pesawat ke transportasi darat seperti bus maupun kereta api.
“Untuk domestik proyeksi 3%—5%. Untuk di Pulau Jawa, kemungkinan turun dan pindah ke moda angkutan darat dan kereta api,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Belum lagi, sepinya okupansi atau tingkat keterisian pada rute-rute favorit. Misalnya saat masa arus mudik, rute Jakarta—Medan ludes terjual. Sementara rute sebaliknya, Medan—Jakarta, banyak tersedia kursi kosong.
Maskapai pun berlomba-lomba mengobral harga tiket dengan memberikan diskon tambahan di luar diskon stimulus dari pemerintah.
Baca Juga
- Industri Mamin Tingkatkan Buffer Stock Sebulan Antisipasi Konflik Timur Tengah
- 35% Jalan di Garut Rusak Jelang Arus Mudik Lebaran 2026
- Properti Kondominium Paling Rentan Terdampak Konflik Timur Tengah
Di samping itu, Bayu memandang perlu adanya surcharge atau biaya tambahan pada arus mudik/balik untuk menutup kerugian maskapai dari penerbangan yang kosong. Sayangnya, harga tiket pesawat terbatas oleh kebijakan Tarif Batas Atas (TBA).
“Untuk penerbangan balik saat arus mudik yang kosong, tiketnya diobral walaupun low demand. Mestinya ada surcharge/tuslah untuk kompensasi kosongnya flight balik saat arus mudik,” tuturnya.
Melihat realisasi pemudik saat Nataru 2025/2026, preferensi masyarakat tampak bergeser menggunakan moda laut dan kereta api ketimbang pesawat.
Tercermin dari kontraksi tipis sebesar -0,91% pada jumlah penumpang pesawat domestik, dari 7,39 juta penumpang pada 2024 menjadi 7,32 juta orang pada Nataru 2025/2026, sementara penyebrangan, laut, dan kereta api tumbuh dua digit.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa pun mengonfirmasi hal tersebut. Kemungkinannya, masyarakat lebih memilih moda lain akibat faktor cuaca. Namun, dirinya tak mengonfirmasi perihal tarif yang disebut-sebut mahal.
“Mereka memilih moda lain, mungkin karena cuaca ya,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenhub, Senin (5/1/2026).
Padahal, lalu lintas pesawat dalam negeri yang mengudara selama Nataru atau pada periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 meningkat sebesar 2,54% (year on year/YoY). Termasuk adanya pengajuan extra flight hingga 329 penerbangan.





