Kisah keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, kembali menjadi pengingat penting tentang hakikat harta dan empati bagi umat Muslim. Ustaz Das'ad Latif menguraikan bagaimana sosok saudagar kaya ini justru merasa khawatir jika kekayaan duniawi menghambat perjalanannya di akhirat.
Kisah Abdurrahman bin Auf dimulai saat ia melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai kaum Muhajirin. Setibanya di Madinah, ia disambut hangat oleh kaum Anshar yang menawarkan tempat tinggal hingga berbagi harta kekayaan. Namun, dengan rendah hati Abdurrahman menolak tawaran tersebut dan hanya meminta satu hal yakni jalan menuju pasar.
Berawal dari usaha kecil di pasar Madinah, kegigihan Abdurrahman membuahkan hasil hingga ia menjadi salah satu pedagang paling sukses pada masanya.
Keberhasilan materi tidak lantas membuat hati Abdurrahman tertutup. Dikisahkan, suatu ketika saat ia hendak menyantap makanan yang lezat, air matanya menetes. Hal ini dipicu oleh ingatannya terhadap perjuangan Rasulullah SAW yang seringkali harus menahan lapar selama berjam-jam karena tidak memiliki makanan untuk dimakan.
Baca juga: Begini Sejarah Diturunkannya Perintah Puasa dalam Islam-Lensa Ramadan
Rasa empati dan takut akan fitnah dunia mendorong Abdurrahman untuk melakukan aksi sosial yang luar biasa. Ia menyedekahkan seluruh hartanya, yang dalam catatan sejarah mencapai kurang lebih 700 ekor unta lengkap dengan muatannya, untuk seluruh penduduk Madinah.
Saat ditanya mengenai alasan menyumbangkan harta dalam jumlah yang fantastis tersebut, Abdurrahman memberikan jawaban yang menggetarkan hati.
"Saya tidak mau kemewahan dunia ini menguasai hati saya sehingga saya melupakan kehidupan akhirat. Saya tidak mau semua harta inilah yang Allah kasih sehingga saya tidak punya apa-apa nanti di akhirat," tuturnya sebagaimana diceritakan kembali oleh Ustaz Das'ad Latif.
Bagi Abdurrahman, sedekah adalah cara 'menitipkan' harta kepada orang lain agar bisa dinikmati kembali di akhirat kelak.
Kisah ini menjadi refleksi bagi setiap Muslim agar kemewahan dunia tidak menjadikan kita terlena dan mengabaikan orang lain, melainkan menjadi sarana untuk bermanfaat bagi sesama, meraih keberkahan di kehidupan yang kekal.




