BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Lebih Kering pada 2026, Risiko Karhutla Meningkat

tvrinews.com
23 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Riau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kondisi cuaca yang lebih kering di Indonesia pada 2026 sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, pada 2025 Indonesia masih dipengaruhi fenomena La Nina lemah pada awal dan akhir tahun sehingga kondisi atmosfer relatif lebih basah. Namun pada 2026, mulai April, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole diperkirakan berada pada fase netral.

“Artinya tidak ada La Nina maupun El Nino yang dominan. Kondisi ini berpotensi membuat curah hujan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan sedikit di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir,”kata Faisal dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tantangan dalam pengendalian karhutla, terutama di wilayah yang selama ini dikenal rawan kebakaran.

Wilayah ekuator mulai memasuki kemarau kecil

BMKG mencatat beberapa wilayah di sekitar ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini mulai memasuki fase yang dikenal sebagai “kemarau kecil”. Pada periode ini masih terdapat peluang hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga Agustus.

Momentum tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana guna meningkatkan curah hujan dan menjaga kelembapan lahan, khususnya di kawasan gambut yang rentan terbakar.

Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kadar air tanah sebelum periode kering mencapai puncaknya.

Antisipasi siklus El Nino berikutnya

BMKG juga terus memantau potensi siklus El Nino yang diperkirakan dapat kembali terjadi pada 2027. Jika fenomena tersebut muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering, Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.

Karena itu, langkah mitigasi dinilai perlu disiapkan sejak dini agar dampaknya dapat ditekan.

Pola Hujan Wilayah Selatan Indonesia

Sementara itu, wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih mengalami curah hujan relatif tinggi hingga awal Maret. Namun intensitas hujan diperkirakan akan menurun secara bertahap seiring peralihan menuju musim kemarau.

BMKG menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer serta memperkuat koordinasi dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pemerintah daerah, serta kementerian terkait.

Melalui sistem peringatan dini berbasis data meteorologi, Operasi Modifikasi Cuaca, serta kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan lebih efektif sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Ungkap Potongan Tubuh di Pantai Ketewel Gianyar Milik WN Ukraina Ihor Komarav
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Kronologi Kepala SPPG di Lampung Ditangkap Usai Cabuli Anak SD, Nekat Culik Korban Saat Main Bersama Teman
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Satpol PP DKI Awasi Lapangan Padel Disegel, Pengelola Terancam Sanksi Bertahap
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Garuda (GIAA) Bakal Tingkatkan Pelayanan usai Skytrax Turunkan Rating Jadi Bintang 4
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Gempur Lapangan Padel Bodong, Pemprov DKI Segel 206 Lokasi
• 11 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.