Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (6/3), setelah sempat melemah pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Mengutip Reuters pada Jumat (6/3), harga emas spot tercatat naik 1 persen menjadi USD 5.124,73 per ons pada pukul 02.55 GMT. Meski demikian, secara mingguan harga emas masih turun sekitar 3 persen dan berpotensi memutus tren penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga naik 1,1 persen ke level USD 5.131 per ons. Penguatan emas juga dipengaruhi pelemahan dolar AS yang membuat logam mulia menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Analis pasar senior OANDA Kelvin Wong mengatakan, ketegangan geopolitik yang belum mereda terus mendorong minat investor terhadap emas.
"Risiko geopolitik masih belum mereda. Bahkan, ada risiko eskalasi, mengingat wawancara baru-baru ini oleh menteri luar negeri Iran yang menyatakan bahwa pasukan Iran siap untuk invasi darat oleh AS atau bahkan Israel. Jadi, hal itu sebenarnya mendukung harga emas," kata Kelvin Wong.
Memasuki hari keenam konflik, Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Di sisi lain, AS menyatakan siap melanjutkan operasi militernya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bersama Laksamana Brad Cooper yang memimpin pasukan AS di Timur Tengah menyebut Amerika memiliki persediaan amunisi yang cukup untuk melanjutkan serangan dalam waktu lama.
Kampanye militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu lalu telah menyerang sejumlah target di berbagai wilayah Iran dan memicu serangan balasan dari negara tersebut.
Konflik ini juga berdampak pada pasar energi global. Harga energi melonjak karena gangguan pasokan dan distribusi, sementara sejumlah produsen besar di Timur Tengah mulai memangkas produksi.
Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai telah naik sekitar 18 persen sejak awal tahun. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Wong memperkirakan harga emas masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek. Dia menyebut level dukungan berada di sekitar USD 5.040 per ons dan resistensi di kisaran USD 5.280 per ons.
Jika harga berhasil menembus level tersebut, emas berpotensi naik hingga USD 5.448 per ons. Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran tidak berubah pada pekan lalu, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja turun tajam pada Februari.
Investor kini menanti rilis laporan ketenagakerjaan AS untuk Februari yang dijadwalkan keluar pada hari yang sama.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,7 persen menjadi USD 83,57 per ons. Platinum naik hampir 1 persen ke level USD 2.141,55 per ons, sementara palladium menguat 1,2 persen menjadi USD 1.648,65 per ons.





