Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sedikitnya 123 orang tewas akibat rentetan serangan terbaru Israel terhadap negara tersebut, yang diklaim menargetkan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Ratusan orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran Tel Aviv.
Lebanon terseret ke dalam perang di Timur Tengah setelah Hizbullah menyerang Israel, pada Senin (3/2), untuk membalas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2) waktu setempat.
Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut dan wilayah Lebanon bagian selatan, yang merupakan benteng kuat Hizbullah.
Tidak hanya itu, militer Israel juga mengerahkan pasukan darat ke kota-kota perbatasan Israel-Lebanon.
"Jumlah korban tewas akibat agresi Israel pada Senin (2/3) telah meningkat menjadi 123 orang martir dan 683 orang lainnya luka-luka," sebut Kementerian Kesehatan Lebanon dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Press TV, Jumat (6/3/2026).
Meningkatnya kekerasan Israel terhadap Lebanon telah memicu kekhawatiran di kalangan organisasi kemanusiaan dan komunitas internasional mengenai keselamatan dan kesejahteraan warga sipil di area-area terdampak serangan.
Serangan Tel Aviv yang terus berlanjut terhadap wilayah Lebanon telah mendorong seruan luas untuk deeskalasi dan kembali ke dialog diplomatik untuk mencegah hilangnya lebih banyak nyawa dan mendorong stabilitas di kawasan.
(nvc/ita)





