EtIndonesia. Baru-baru ini, senat Amerika Serikat menolak sebuah resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan perang Presiden Donald Trump dengan hasil pemungutan suara 53 berbanding 47. Resolusi tersebut mengusulkan penghentian serangan udara terhadap Iran dan menuntut agar setiap tindakan militer terhadap Iran harus mendapat persetujuan dari Kongres. Namun pada akhirnya resolusi itu ditolak.
Sementara itu, sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Operasi tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei serta hampir 50 pejabat tinggi Iran lainnya.
Pengamat kemudian menemukan bahwa radar dan sistem pertahanan udara buatan Tiongkok yang digunakan Iran dalam perang tersebut ternyata tidak mampu berfungsi efektif, sehingga memicu perdebatan luas.
Sistem pertahanan tidak mampu mendeteksi dan mencegatDalam perang tersebut, pasukan pertahanan udara Iran menggunakan jaringan pertahanan yang terdiri dari sistem buatan Rusia, sistem produksi dalam negeri, serta sistem buatan Tiongkok.
Namun kenyataannya menunjukkan bahwa radar dan peralatan pertahanan udara buatan Tiongkok tidak mampu mendeteksi maupun mencegat serangan ketika menghadapi teknologi perang elektronik dan pesawat siluman milik militer AS.
Direktur Institute for National Defense and Security Research di Taiwan, Su Tzu-yun, menjelaskan tiga alasan utama:
- Sistem pertahanan udara Iran berasal dari Rusia, Tiongkok, dan buatan Iran sendiri, sehingga tingkat kompatibilitasnya rendah.
- Radar utama telah dihancurkan oleh serangan AS dan Israel, sehingga rudal pertahanan udara kehilangan panduan.
- AS dan Israel menggunakan “soft kill” melalui perang elektronik untuk mengacaukan sistem, lalu melakukan “hard kill” dengan serangan udara-ke-darat untuk menghancurkannya.
Dalam pertempuran tersebut, Iran mengerahkan radar peringatan dini jarak jauh YLC-8B buatan Tiongkok yang diklaim memiliki kemampuan kuat untuk mendeteksi pesawat siluman, serta sistem pertahanan udara seri Hongqi (HQ).
Sebelumnya pihak Tiongkok mengklaim bahwa sistem tersebut mampu mendeteksi pesawat tempur siluman canggih seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor.
Namun dalam pertempuran nyata, pesawat tempur AS justru dapat beroperasi seolah-olah tanpa perlawanan, sementara radar dan sistem pertahanan udara Tiongkok tetap “diam” tanpa reaksi.
Peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Chung Chih-tung, mengatakan bahwa sistem pertahanan udara tersebut dalam praktiknya tidak memberikan efek apa pun.
Kurang pengalaman tempur dan masalah kualitasSu Tzu-yun menambahkan bahwa sistem senjata Tiongkok sebenarnya memiliki performa dasar yang cukup baik, tetapi keandalannya masih bermasalah. Ketika berhadapan dengan teknologi perang elektronik yang lebih maju dari Barat, kelemahan tersebut langsung terlihat.
Ia juga mencontohkan bahwa kasus serupa pernah terjadi sebelumnya:
- ketika Tiongkok memasok radar seri YLC dan JY ke Suriah,
- yang diklaim mampu mendeteksi F-35,
- namun tetap berhasil dihancurkan oleh militer Israel.
Para analis menyebutkan bahwa kelemahan utama senjata Tiongkok adalah kurangnya pengalaman tempur nyata serta kontrol kualitas yang tidak stabil.
Namun para pakar juga mengingatkan agar tidak meremehkan kemampuan militer Tiongkok secara berlebihan.
Chung Chih-tung mengatakan bahwa Tiongkok kemungkinan akan memanfaatkan kejadian ini untuk mengevaluasi sistem senjatanya dan memahami mengapa hasil di medan perang jauh berbeda dari yang diharapkan.
Kesenjangan teknologi dengan AS lebih dari 10 tahunPara ahli menilai bahwa meskipun Tiongkok memiliki keunggulan jumlah senjata, kemampuan perang elektroniknya masih tertinggal setidaknya 10 tahun dari Amerika Serikat.
Jika kesenjangan teknologi tersebut terjadi di kawasan Indo-Pasifik, dampaknya bisa lebih besar karena konflik di kawasan itu kemungkinan besar akan didominasi oleh perang laut dan udara, bukan operasi darat seperti di Iran.
Laporan oleh wartawan NTD: Yi Jing dan Luo Ya.





