Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bakal mendorong pompanisasi 2,2 juta hektare lahan sawah untuk menghadapi ancaman kekeringan dari fenomena El Nino tahun ini.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan kemungkinan datangnya El Nino pada pertengahan tahun ini. Dia optimistis bahwa pertanian Tanah Air akan lebih mudah menghadapi kondisi iklim tersebut.
“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare, bisa menjangkau pompa kita ke 1,2 juta hektare sawah tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare,” kata Amran dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube Kementan, Jumat (6/3/2026).
Dengan demikian, dia menuturkan bahwa sekitar 2,2 juta hektare lahan akan dapat dialiri air pada saat kondisi musim kering yang akan datang, baik dari sungai-sungai, sumur dalam, hingga sumur dangkal yang telah dipetakan.
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan infrastruktur irigasi dengan melakukan pembenahan atau rehabilitasi irigasi untuk kurang lebih 1 juta hektare lahan.
“Jadi infrastruktur sudah siap. Ibaratkan jauh sebelumnya kita sudah siapkan payung karena kita tahu bahwa akan terjadi hujan,” ujarnya.
Baca Juga
- RI Masih Bergantung Impor Pangan, Indef Wanti-Wanti Lonjakan Harga Imbas Konflik Global
- Mentan: Stok Pangan RI Cukup untuk 324 Hari, Produksi Terus Bertambah
- Indef: Gonjang-ganjing Tarif AS hingga Perang Israel-Iran Bisa Picu Harga Pangan Naik
Amran juga menjelaskan bahwa optimalisasi lahan rawa untuk pertanian telah mencapai 1 juta hektare, yang diklaim memiliki produktivitas tinggi saat musim kering. Pihaknya juga mendorong suplai bibit unggul yang lebih tahan terhadap kondisi kering hingga tahan air tawar.
Sebelumnya, pengamat pertanian mewanti-wanti adanya ancaman fenomena El Nino yang dapat berdampak terhadap produksi pertanian, khususnya beras pada pertengahan 2026.
Guru Besar ekonomi pertanian Universitas Lampung (Unila), Bustanul Arifin mencermati peluang munculnya ENSO (El-Nino Southern Oscillation) pada pertengahan tahun ini, berdasarkan laporan BMKG
Menurut Bustanul, laporan BMKG itu berbasis pada data IRI (International Research Institute) di Columbia University, Amerika Serikat (AS).
“Jika prakiraan El-Nino itu benar-benar terjadi, berarti ada peluang terjadinya penurunan produksi padi dan komoditas pertanian lain,” kata Bustanul kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).





