Hujan sedari pagi masih menyisakan gerimis tatkala suara azan panggilan shalat Jumat berkumandang di antara pertokoan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026). Hendra (68) khidmat mengumandangkan adzan di Masjid Lautze. Pria peranakan Tionghoa tersebut mengabdikan diri menjadi muazin dan imam di kawasan pecinan tersebut sejak menjadi mualaf.
“Saya sering jadi jemaah disini, ikut pengajian, kadang jadi muazin, kadang jadi imam, rumah saya sekitar sini saja. Toleransi terjaga baik di kawasan pecinan ini”, kata Hendra.
Warga mulai memadati masjid. Kebanyakan warga yang menjalankan ibadah di masjid ini adalah karyawan yang bekerja atau singgah untuk kepentingan bisnis di kawasan pecinan. Ada juga beberapa mualaf yang tinggal disekitar pecinan.
Masjid ini buka sesuai jam kantor antara pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Pada bulan Ramadhan, masjid ini hanya mengadakan buka puasa bersama pada hari Sabtu.
Pengurus Masjid Lautze Yusman membuka dan menyampaikan laporan keuangan. Lantai satu dan lantai dua sudah penuh jemaah. Kalau tidak hujan pinggir jalan juga digelar karpet untuk menampung jemaah. Imam dan khatib dalam shalat Jumat yang memasuki hari ke-15 bulan Ramadhan kali ini disampaikan oleh Amrullah.
Jumat berkah juga rutin digelar di masjid tersebut dengan memberikan nasi kotak. Namun, saat Ramadhan, nasi kotak di ganti dengan pembagian kurma. Jemaah satu persatu mendapatkan bagian satu kotak ukuran kecil berisi kurma saat keluar masjid. Tak begitu lama, tiga kardus berisi kurma sudah habis dibagikan.
Masjid yang berada di di Jalan Lautze 87-89 ini terimpit di antara puluhan rumah toko di kawasan pecinan. Masjid ini didirikan oleh Yayasan Karim Oei pada tahun 1991.
Abdul Karim Oei (Oey Tjeng Hien) adalah pejuang kemerdekaan Indonesia, tokoh Muhammadiyah, dan pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Karim Oei adalah mualaf keturunan Tionghoa yang lahir di Padang pada 1905. Saat Haji Karim tutup usia pada 1988, salah seorang anaknya yakni Alim Karim beserta sahabat-sahabatnya mendirikan yayasan untuk mengenang beliau.
Bangunan empat lantai dengan warna merah, kuning dan hijau tersebut mencolok di antara bangunan lainnya yang berwarna putih. Tidak ada kubah dan menara diatasnya. Empat pintu utama bercat merah dengan ornamen bulatan kuning. Ada 15 kaligrafi bertuliskan huruf arab dan cina yang langsung didatangkan dari Tiongkok yang menghiasi dinding masjid. Masjid direnovasi dan diresmikan lagi oleh Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat BJ Habibie pada tahun 1994.





