Korea Selatan (Korsel) mencapai kesepakatan pengiriman minyak mentah dari Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (6/3). Langkah itu untuk memperkuat pasokan Korsel di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang berdampak juga ke pasar energi.
Diberitakan AFP, pengiriman minyak mentah ke Korsel itu tidak akan melewati Selat Hormuz. Iran saat ini menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak mentah dunia.
"Kami berencana untuk segera menambatkan dua kapal tanker minyak berbendera Korea Selatan, masing-masing dengan kapasitas 2 juta barel, di pelabuhan alternatif di UEA yang tidak memerlukan jalur melalui Selat Hormuz," kata Kepala Staf Kepresidenan Korsel, Kang Hoon-sik.
Pemerintah Korsel menegaskan pasokan minyak mentah dalam negeri tersedia sesuai permintaan. "Hingga 2 juta barel dari cadangan strategis bersama yang disimpan UEA di Korea Selatan dapat disediakan kapan saja berdasarkan permintaan," kata Kang.
Menurut data Pemerintah AS, Korsel adalah pengimpor minyak mentah terbesar keempat di dunia. Sekitar 70 persen minyak mentah yang diimpor Korsel melewati Selat Hormuz.
Pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada akhir pekan lalu. Sekitar seperempat hingga sepertiga perdagangan bahan baku pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Seperlima minyak mentah dan gas juga melalui selat strategis itu.
Sehingga penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak ke pasokan dan harga energi saja, tetapi juga berimbas ke kemungkinan meningkatnya harga pangan. Dikutip dari The Guardian, Jumat (6/3), penutupan Selat Hormuz secara de facto mempengaruhi pengangkutan amonia dan nitrogen yang merupakan bahan utama dalam banyak produk pupuk sintetis.
Sekitar setengah produksi pangan global tergantung pada nitrogen sintetis dan hasil panen akan menurun tanpa pupuk. Kekurangan itu akan mendorong kenaikan harga bahan pokok rumah tangga seperti roti, pasta dan kentang, dan membuat pakan ternak lebih mahal.
Kawasan Teluk jadi lokasi bagi beberapa lokasi pabrik pupuk terbesar di dunia. Penutupan transportasi yang berkepanjangan dapat mengganggu produksi dan menaikkan biaya.





