Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa bagian dunia, diskusi tentang perang semakin mendominasi berita utama. Pemerintah memperdebatkan strategi militer, aliansi, keamanan nasional, dan perlindungan lokasi aset-aset vital. Namun di tengah percakapan ini, satu pertanyaan penting sering diabaikan:
Para ahli mengatakan bahwa ketika konflik meningkat, anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan. Terlepas dari hukum internasional yang dirancang untuk melindungi warga sipil, anak-anak sering kali terjebak dalam baku tembak peperangan modern.
Bagi mereka, perang tidak dimulai dengan politik atau strategi. Perang dimulai dengan ledakan di halaman rumah, sekolah yang ditutup tanpa batas waktu, dan rumah sakit yang sudah tidak mampu merawat korban luka.
Peringatan dari Perserikatan Bangsa-BangsaPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa peningkatan operasi militer di beberapa bagian Timur Tengah sudah menimbulkan ancaman serius bagi anak-anak.
Menurut organisasi internasional tersebut, peningkatan operasi militer yang masif di Iran dan wilayah sekitarnya sangat merusak dan menimbulkan ancaman serius bagi anak-anak.
PBB menekankan bahwa warga sipil, sekolah, dan rumah sakit tidak boleh diserang.
“Setiap anak di wilayah tersebut—dan di seluruh dunia—berhak untuk hidup bebas dari rasa takut, dengan perlindungan dan hak-hak mereka ditegakkan,” ungkap PBB.
PBB juga menyerukan penghentian permusuhan segera, menekankan bahwa warga sipil bukanlah target dalam konflik bersenjata.
Terlepas dari prinsip-prinsip ini, berbagai organisasi kemanusiaan menyatakan bahwa perlindungan anak-anak sering kali dikesampingkan ketika eskalasi konflik meningkat.
Skala KerusakanData dari PBB mengungkap luasnya dampak perang terhadap anak-anak.
Antara tahun 2020 dan 2024, hampir 50.000 anak tewas atau terluka dalam konflik bersenjata di seluruh dunia; explossive weapons menyumbang lebih dari 60% dari jumlah korban tersebut.
Pada tahun 2023 saja, PBB memverifikasi lebih dari 31.000 pelanggaran berat terhadap anak-anak di zona konflik.
Anak-anak juga semakin dipaksa untuk terlibat dalam konflik itu sendiri. Antara tahun 2005 dan 2020, lebih dari 93.000 kasus perekrutan anak diverifikasi, dengan anak-anak digunakan sebagai tentara, mata-mata, atau dieksploitasi oleh kelompok bersenjata.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, PBB mencatat lebih banyak korban anak di Ukraina daripada sepanjang tahun 2023, yang menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi anak-anak di zona perang aktif.
Wilayah Konflik yang Mengancam Keselamatan Anak-AnakKetika kekhawatiran Perang Dunia ke-3 akan pecah, di beberapa wilayah di dunia anak-anak sudah mengalami dampak buruk dari konflik bersenjata.
Di Jalur Gaza, puluhan ribu anak telah tewas atau terluka sejak Oktober 2023. Di Sudan, kekerasan yang meluas, kelaparan, dan pengungsian telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia yang memengaruhi anak-anak.
Di Ukraina, serangan di daerah padat penduduk terus membahayakan anak-anak. Sementara itu, di Republik Demokratik Kongo dan Nigeria, kelompok bersenjata terus merekrut dan menggunakan anak-anak dalam konflik.
Di Haiti, laporan kekerasan seksual terhadap anak-anak meningkat drastis, dengan peningkatan 1.000 persen dalam kasus yang dilaporkan pada tahun 2024.
Risiko Hilangnya Satu GenerasiUNICEF telah memperingatkan bahwa konsekuensi perang bagi anak-anak sering kali meluas jauh melampaui medan perang. Pendidikan yang terganggu, trauma psikologis, pengungsian, dan kehilangan anggota keluarga dapat memengaruhi kehidupan mereka selama bertahun-tahun.
Tanpa perlindungan yang lebih kuat dan perhatian internasional yang berkelanjutan, para ahli mengatakan dampak jangka panjangnya dapat membentuk seluruh masyarakat.
Seiring meningkatnya ketegangan secara global, pertanyaan ini menjadi semakin mendesak: Siapa yang melindungi anak-anak di ambang perang?





