Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peningkatan penjualan selama periode Lebaran 2026 berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dinilai penting di tengah tingginya ketidakpastian global, khususnya di tengah serangan AS-Israel terhadap Iran yang berpotensi berdampak pada aktivitas ekonomi hingga sektor pariwisata dalam negeri.
“Bayangin di Timur Tengah, Dubai, Qatar, Doha tidak terbang padahal satu tahun mereka 90 juta orang yang transit, jadi sangat berpengaruh baik yang ke Eropa maupun ke Asia (termasuk Indonesia),” kata Airlangga dalam acara Opening Ceremony BINA di Senayan City, Jakarta, Jumat (6/3).
Selain itu, Airlangga juga menyinggung gangguan yang terjadi pada jalur pelayaran karena sebagian kapal tidak beroperasi. Katanya, situasi ini menjadi periode yang harus dihadapi secara hati-hati hingga akhir tahun.
“Kita juga mencari alternatif-alternatif lain karena bukan pertama kali kita mengalami hal ini dan berdasarkan dengan berbagai pengalaman yang lalu tentu pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang cepat,” kata Airlangga.
Menurutnya, kini pemerintah juga mendorong perlindungan terhadap produksi dalam negeri karena banyak negara tengah mencari pasar besar, dengan jumlah penduduk sekitar 287 juta jiwa.
“Produksi dalam negeri juga harus dilindungi karena semua negara mencari market yang besar dan Indonesia dengan 287 juta penduduk ini merupakan sebuah market yang terbesar di ASEAN,” sebut Airlangga.
Biaya Logistik Naik, Airlangga Sebut Harga Domestik Masih AmanAirlangga juga memastikan ketersediaan komoditas menjelang Lebaran tetap terjaga. Ia menyebut harga pasokan masih relatif aman meskipun biaya logistik meningkat, karena sebagian besar barang masih berasal dari stok yang telah masuk sebelumnya.
“(Biaya logistik memengaruhi harga) belum, belum. Ini, kan, masih stok yang kemarin yang sudah masuk. Masih aman sampai Lebaran,” tegas Airlangga.
Ia menjelaskan, pengelolaan stok tersebut berada di masing-masing pelaku usaha sesuai dengan jenis komoditasnya, sehingga tidak seluruhnya diperlakukan sebagai komoditas global.
“Itu masing-masing pengusaha, kan, yang komoditas, jadi bukan komoditas secara global,” tuturnya.





