JAKARTA, DISWAY.ID– Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat peningkatan signifikan temuan produk pangan ilegal dan tidak layak edar selama intensifikasi pengawasan menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Hasil pengawasan tahap II hingga akhir Februari 2026 menunjukkan jumlah produk pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) melonjak 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Total 32.608 pieces produk bermasalah berhasil diamankan petugas BPOM di berbagai wilayah.
BACA JUGA:Integrasi Data Talenta Nasional, Bappenas Tandatangani PKS dan NDA Bersama Gugus Tugas MTN
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan temuan tersebut saat melakukan sidak di kawasan Panakkukang, Makassar, Kamis (5/3/2026).
Dari total temuan, sebanyak 57 persen atau 18.420 pieces merupakan produk Tanpa Izin Edar (TIE) alias pangan ilegal. Sisanya didominasi produk kedaluwarsa (35 persen) dan produk rusak (8 persen).
“Produk ilegal ini tidak hanya beredar di pasar tradisional, tetapi sudah masuk ke gudang distributor dan ritel modern. Nilai ekonominya mencapai lebih dari Rp331 juta,” ujar Taruna dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2026).
Beberapa komoditas yang sering ditemukan meliputi kembang gula asal Malaysia serta cokelat impor dari Arab Saudi dan Turki—barang yang biasanya laris manis saat Ramadan.
BACA JUGA:Kunjungan ke Tuban, Wapres Gibran Puji Pengembangan Fasilitas Ekspor Pabrik Solusi Bangun Indonesia
Tak hanya soal izin edar, BPOM juga menemukan ancaman kesehatan serius melalui rapid test kit terhadap 2.888 sampel makanan di seluruh Indonesia.
Hasilnya, 48 sampel positif mengandung zat berbahaya yang dilarang dalam pangan, antara lain:
- Formalin: Ditemukan pada mi kuning basah dan tahu, terutama di wilayah Tangerang dan Surabaya.
- Rhodamin B (pewarna tekstil): Terdeteksi pada sirup, es cendol, dan kerupuk, tersebar dari Jakarta hingga Ambon.
- Boraks: Masih marak pada lontong, mi kuning, dan beberapa bahan pangan dasar lainnya.
“Kami menemukan zat pewarna tekstil yang berpendar serta pengawet berbahaya yang seharusnya tidak ada dalam makanan. Ini ancaman nyata bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa,” tegas Taruna.
- 1
- 2
- »





