Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Panglima TNI Agus Subiyanto menghadiri kegiatan silaturahmi Presiden Prabowo Subianto dengan para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Dalam keterangan yang diterima oleh tvrinews.com, Sabtu, 7 Maret 2026, pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan tokoh agama untuk membahas sejumlah isu strategis, baik yang berkaitan dengan situasi nasional maupun dinamika global.
Kehadiran Panglima TNI dalam kegiatan itu disebut sebagai bentuk dukungan TNI terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat sinergi dengan para tokoh agama, sekaligus menjaga persatuan nasional di tengah berbagai tantangan kebangsaan.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga mengajak para ulama dan tokoh Islam untuk merapatkan barisan dalam mendukung langkah Indonesia mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Tokoh Nahdlatul Ulama yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid mengatakan para tokoh agama diajak berada dalam satu barisan bersama pemerintah untuk memperjuangkan perdamaian.
“Dan kemudian mengambil satu kesimpulan, berharap kepada pimpinan ormas, tokoh-tokoh Islam ini bersama dengan Bapak Presiden dalam satu barisan, bersama-sama memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah. Terutama juga meredakan ketegangan,” ujar Nusron.
Menurut Nusron, pemerintah tidak menginginkan konflik di kawasan tersebut semakin meluas. Indonesia terus mendorong berbagai langkah pencegahan agar eskalasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Jangan sampai perang terjadi antara Iran dengan Amerika, serta akan berdampak terhadap gejolak di Timur Tengah,” kata Nusron.
Ia menambahkan pemerintah terus memantau perkembangan konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, serta menyiapkan langkah mitigasi agar dampaknya tidak signifikan bagi Indonesia.
“Intinya, Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam Kelompok Delapan (D8) itu menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut terutama di Iran maupun di kawasan Teluk dan sebagainya,” ucap Nusron.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan persatuan nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Menurut Muhaimin, Indonesia memilih jalur dialog sebagai upaya mencari solusi sekaligus menjaga kepentingan nasional di tengah situasi dunia yang tidak menentu.
“Sehingga, apa pun kondisinya, perang Amerika–Iran, kondisi peta geopolitik, kita tetap kuat bersatu, solid, tidak mudah dipecah belah, dan yang penting semua yang dilakukan Presiden adalah untuk kepentingan nasional,” kata Muhaimin.
Editor: Redaktur TVRINews





