Massa aksi demo di Kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, berbuka puasa bersama saat azan magrib berkumandang, Sabtu (7/3).
Aksi yang diikuti mahasiswa, pemuda, hingga koalisi masyarakat sipil itu dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Sepanjang aksi, massa menyampaikan berbagai orasi keberatan Indonesia bergabung dengan Board of Peace, sebelum akhirnya ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap.
Saat pernyataan sikap dibacakan, sejumlah peserta aksi juga menyalakan flare di panggung dan juga di tengah kerumunan massa.
Dalam salah satu orasinya, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Heru Susetyo menegaskan aksi tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap Palestina.
“Kita berdiri di sini karena kita peduli dengan Palestina. Kita berlelah-lelah, hujan, siang panas terik, karena kita concern, peduli dengan Palestina. Kita benci dengan penjajahan, dengan genosida, dengan crimes against humanity. Itu yang dilakukan Israel, baik di Gaza maupun di Iran,” ujar Heru.
Ia menyebut perang yang terjadi di kawasan tersebut sebagai perang yang ilegal dan menilai tindakan itu mencerminkan bentuk imperialisme baru.
“Perang di sana adalah perang ilegal. Kita tidak mau adanya imperialisme gaya baru oleh Israel, oleh Amerika. Karena DNA bangsa Indonesia adalah anti penjajahan,” katanya.
Menurut Heru, sikap menolak penjajahan sejalan dengan sejarah Indonesia yang pernah dijajah dalam waktu lama.
“Bahwa kita benci dengan penjajahan karena kita pun adalah bangsa yang pernah dijajah beratus-ratus tahun lamanya,” ucapnya.
Aksi kemudian berakhir saat azan maghrib berkumandang. Massa yang telah menunggu waktu berbuka langsung meneguk air untuk membatalkan puasa.
Pantauan kumparan di lokasi, sekelompok ibu-ibu yang juga menjadi peserta demonstrasi terlihat membagikan es buah kepada massa.
Mereka membawa satu ember es buah, lalu menuangkannya ke gelas plastik satu per satu sebelum dibagikan kepada peserta aksi untuk berbuka puasa.





