Rapor Emiten Batu Bara AADI vs ITMG Cs, Siapa Paling Moncer?

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah emiten batu bara merilis kinerja 2025. Sebagian besar produsen mineral yang dijuluki emas hitam itu melaporkan kinerjanya tertekan. Lesunya harga batu bara sepanjang 2025 menekan average selling price (ASP) emiten, membuat pendapatan tergerus sehingga memangkas laba bersih emiten seperti AADI hingga ITMG.

Melansir laporan keuangan tahun buku 2025 diaudit, pendapatan usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) turun 7,7% year on year (YoY) menjadi US$4,91 miliar dengan koreksi laba bersih 37,2% YoY menjadi US$760,18 juta. 

Sementara itu, PT Alamtri Resources Tbk. (ADRO) mencatat koreksi pendapatan usaha 9,9% YoY menjadi US$1,87 miliar dengan koreksi laba bersih 67,6% YoY menjadi US$447,79 juta.

Selanjutnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) membukukan koreksi pendapatan bersih 18,4% YoY menjadi US$1,88 miliar dengan laba bersih yang turun 48,9% YoY menjadi US$190,94 juta. 

Terakhir, ada PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang juga memiliki bisnis batu bara selain alat berat dan emas mencatat koreksi pendapatan bersih 2,3% YoY menjadi Rp131,30 triliun dengan koreksi laba bersih 24,2% YoY menjadi Rp14,81 triliun.

Emiten batu bara milik Danantara, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) yang baru melaporkan kinerja keuangan tidak diaudit Januari-September 2025, membukukan kenaikan pendapatan 2,2% YoY menjadi Rp31,33 triliun. Meski naik, lonjakan beban pokok pendapatan dan pos beban lain membuat perseroan mencatat koreksi laba bersih 39,3% YoY menjadi Rp1,98 triliun.

Baca Juga

  • Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Minggu 8 Maret 2026
  • Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Minggu, 8 Maret 2026
  • Investor Ramai-Ramai Tarik Dana, BlackRock Batasi Pencairan HLEND

Jika menelisik peran sentral komoditas batu bara pada bisnis emiten tersebut dalam tahun buku 2025, segmen batu bara di AADI menyumbang 91,04% dari total pendapatan usaha, tepatnya mencapai US$4,47 miliar. Angka ini turun 8,2% secara YoY.

Kemudian, ADRO di segmen penjualan hasil tambang mereka berkontribusi US$967,10 juta atau 51,6% atas total pendapatan usaha. Angka ini juga turun sebesar 16,5% YoY. Selanjutnya, ITMG mencatat porsi 99,19% pendapatan bersihnya dari segmen batu bara, nilainya mencapai US$1,86 miliar atau terpangkas 18,5% YoY.

Tren yang sama juga ditunjukkan UNTR, di mana segmen penambangan batu bara termal dan metalurgi mengalami koreksi 6,9% YoY menjadi Rp24,19 triliun. Segmen ini berkontribusi atas 18,4% dari total pendapatan bersih perseroan. 

Sementara itu, PTBA untuk periode Januari-September 2025 mencatat pendapatan dari segmen batu bara sebesar Rp30,75 triliun atau 98,1% dari total pendapatan mereka. Nilainya naik tipis, 1,7% secara YoY.

Bila meneropong bagaimana strategi pendanaan emiten batu bara membiayai ekspansi bisnis mereka, leverage UNTR sepanjang 2025 menjadi yang terbesar. Emiten batu bara afiliasi Grup Astra ini mencatat debt to equity ratio (DER) 0,72 kali, dibanding duo emiten Boy Thohir AADI dan ADRO yang masing-masing mencatat DER 0,56 kali dan 0,36 kali. 

Sisanya, ITMG mencatat DER paling kecil, yakni hanya 0,26 kali. Selanjutnya, PTBA dalam 9 bulan pertama 2025 menorehkan DER 1,06 kali.

Lesunya kinerja emiten batu bara pada 2025 sejalan dengan mendinginnya harga komoditas tersebut. Di pasar ICE Newcastle, harga batu bara sepanjang 2025 secara year to date (YtD) ambrol 14,17%. Sedangkan di tahun ini, pasar batu bara diproyeksi akan membaik dipicu konflik geopolitik antara AS-Iran.

Adaro Energy Tbk. - TradingView

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta dalam risetnya yang terbit 5 Maret 2026 mengatakan bahwa gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akan mendorong harga minyak dan LNG lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi membuat utilitas batu bara termal di wilayah India, Asia Tenggara dan sebagian Eropa meningkat.

Riset membuat tiga skenario proyeksi. Pertama, gangguan jangka pendek akan meningkatkan permintaan batu bara termal global sekitar 40-55 juta ton di mana harga batu bara Newcastle ditaksir akan naik ke US$130-US$150 per ton. 

Kedua, gangguan dalam jangka menengah akan mengungkit permintaan lebih dari 91 juta ton dengan harga batu bara yang melonjak di kisaran US$150-US$175 per ton. 

Ketiga, dalam dalam skenario gangguan berkepanjangan, kenaikan permintaan dapat melampaui 180 juta ton di mana ini akan mengungkit harga batu bara di sekitar US$200-US$250 per ton. Di akhir 2025, harga batu bara Newcastle berakhir di US$107,5 per ton.

Pada 2025, produksi batu bara di Indonesia mencapai 790 juta ton di mana 65% dikirim ke pasar ekspor dan 32% dialokasikan di pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO). Sementara pada 2026 ini, Kementerian ESDM berencana memangkas RKAB batu bara di kisaran 600 juta ton.

"Analisis skenario kami memperkirakan adanya kesenjangan pasokan tambahan sebesar 45–96 juta ton dari ekspor Indonesia jika pembatasan produksi benar-benar diterapkan. Hal ini akan menciptakan risiko kenaikan harga yang lebih besar," tulis riset tersebut, dikutip Minggu (8/3/2026).

Riset sekuritas juga membandingkan proyeksi kemampuan emiten menghasilkan laba melalui modal perusahaan. Return on equity (ROE) AADI menjadi yang tertinggi, ditaksir mencapai 20,9% pada 2026. Sisanya, ROE tahun buku 2026 ADRO, ITMG, PTBA, dan UNTR masing-masing ditaksir 13%, 11,2%, 18,5%, dan 15%.

BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi buy dengan target harga untuk AADI di Rp12.100 sampai Rp15.840 dengan skenario harga batu bara yang bullish. Sedangkan, ADRO di target harga Rp2.630, ITMG di Rp26.500, PTBA di Rp3.100, dan UNTR dengan target harga Rp32.000.

Di sisi lain, proyeksi cerah komoditas batu bara dapat terganjal downside risks, yang meliputi pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, pelepasan cadangan minyak strategis serta tambahan produksi OPEC+ sebesar 206 ribu barel minyak per hari, serta membaiknya persediaan LNG dan cadangan minyak dari China. Kondisi tersebut dapat menunda peralihan penggunaan energi ke batu bara dan menekan ekspektasi adanya lonjakan harga tinggi.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tiga Truk Terlibat Kecelakaan di KM 431 Tol Semarang-Solo, Satu Tewas
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Turki peringatkan Iran untuk tidak ulangi insiden rudal balistik
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Mabes TNI Buka Suara soal Beredarnya Telegram Instruksi Siaga 1 Panglima
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menteri Perang AS Serukan Rakyat Iran: “Tetap di Rumah, Tunggu Sampai Penindas Dibom Habis” 
• 21 jam laluerabaru.net
thumb
Guncangan Energi Timur Tengah Ancam Inflasi Inggris Naik Jadi 3%
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.