Ternate, VIVA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Ternate mengecam keras dugaan tindakan intimidasi terhadap sejumlah jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan dalam pertandingan Malut United melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Kie Raha, Sabtu malam.
Insiden tersebut disebut terjadi saat para wartawan meliput pertandingan BRI Super League yang mempertemukan Malut United sebagai tuan rumah dengan PSM Makassar. Beberapa jurnalis mengaku mendapat tekanan hingga diminta menghapus dokumentasi yang mereka ambil.
Ketua PWI Kota Ternate, Ramlan Harun, menegaskan bahwa tindakan yang menghalangi kerja wartawan tidak dapat dibenarkan. Ia mengingatkan bahwa aktivitas jurnalistik dilindungi undang-undang.
Menurut Ramlan, para wartawan yang bertugas saat itu telah mengantongi identitas resmi peliputan dari penyelenggara kompetisi.
"PWI Ternate mengecam keras segala bentuk upaya menghalang-halangi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Setiap orang yang menghambat kerja pers dapat dikenakan sanksi pidana dua tahun penjara sesuai UU Pers," ujar Ramlan Minggu, 8 Maret 2026.
Ia juga menyoroti adanya dugaan intimidasi verbal terhadap jurnalis serta permintaan dari oknum tertentu agar hasil liputan berupa foto maupun video dihapus.
Ramlan menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar prinsip kemerdekaan pers yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa segala bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik dapat dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda maksimal Rp500 juta. Ketentuan itu merujuk pada Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) serta Pasal 18 ayat (1) yang menegaskan larangan penyensoran, pembredelan, maupun pelarangan penyiaran.
Dugaan intimidasi itu salah satunya dialami wartawan Radio Republik Indonesia Ternate, Irwan. Ia mengaku diminta oleh seorang oknum yang diduga merupakan ofisial Malut United untuk menghapus video yang merekam perjalanan perangkat pertandingan setelah laga berakhir.
"Kamu wartawan, kamu harus hapus video itu," teriak oknum tersebut sambil memprovokasi sejumlah suporter di sekitar lokasi.
Tidak hanya itu, oknum tersebut juga disebut meminta steward stadion untuk mengusir wartawan yang berada di tribun, meskipun mereka telah mengenakan kartu identitas resmi dari Super League.





