Diplomasi Indonesia yang Riuh ke Dalam Negeri

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan dinamika yang tidak biasa dalam pengelolaan diplomasi Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto mengundang berbagai tokoh nasional untuk membahas posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global.

Tidak hanya tokoh dari organisasi keagamaan, Presiden juga mengundang para mantan menteri luar negeri, ketua umum partai politik, mantan wakil menteri luar negeri, bahkan mantan presiden seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, serta sejumlah mantan wakil presiden.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah menyadari situasi geopolitik global yang sedang berkembang tidak sederhana.

Polemik muncul setelah Indonesia masuk dalam Board of Peace (BoP)—forum internasional yang diprakarsai Donald Trump—sementara pada saat yang sama konflik Amerika Serikat dan Iran memanas. Indonesia bahkan disebut siap menawarkan diri sebagai mediator konflik tersebut.

Di ruang publik, dinamika ini berkembang menjadi perdebatan panjang. Sebagian pihak mempertanyakan arah diplomasi Indonesia, terutama terkait posisi terhadap Palestina.

Baca juga: Siapa Sebenarnya Dirigen Komunikasi Pemerintah Prabowo?

Kritik datang dari berbagai kalangan, mulai dari diplomat senior, tokoh nasional, hingga masyarakat sipil.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, polemik yang berkembang ini sebenarnya tidak sepenuhnya lahir dari substansi kebijakan itu sendiri.

Yang lebih terlihat justru adalah lemahnya orkestrasi komunikasi pemerintah dalam menjelaskan arah dan pertimbangan di balik langkah diplomasi tersebut.

Hal ini menjadi semakin penting jika melihat konteks global saat ini. Gaya kepemimpinan Donald Trump memang membuat banyak negara berada dalam posisi serba hati-hati—mulai dari kebijakan tarif dagang yang agresif hingga sikap politiknya yang sulit diprediksi.

Trump bahkan terlihat berani mendorong penataan ulang tatanan politik internasional, termasuk melalui gagasan membangun forum tandingan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Situasi seperti ini wajar membuat banyak negara “berkeringat dingin” membaca arah geopolitik yang bergerak cepat.

Namun, justru dalam situasi seperti itu, pemerintah sebenarnya memiliki banyak ruang untuk menjelaskan alasan strategis di balik posisi Indonesia. Sayangnya, ruang penjelasan tersebut tidak hadir secara kuat di ruang publik.

Seandainya tim komunikasi pemerintah mampu merumuskan dan menyampaikan narasi kebijakan secara jelas dan konsisten, berbagai spekulasi yang berkembang saat ini mungkin tidak akan berubah menjadi polemik yang begitu riuh.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Ketika Kebijakan Tidak Dijelaskan

Dalam politik, kebijakan publik tidak hanya diukur dari substansinya, tetapi juga dari bagaimana kebijakan tersebut dijelaskan kepada masyarakat. Tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan yang rasional sekalipun dapat terlihat membingungkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baru Menjabat, Kasat Narkoba Polres Toraja Utara Tunjukkan Taring! Ungkap 2 Kasus Narkoba dalam 2 Hari
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Ini Waktu Terburuk untuk Menimbang Berat Badan yang Harus Dihindari
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Bologna Tumbang 1-2 dari Hellas Verona, Lecce Menang dan Keluar dari Zona Degradasi
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Menag Ingin RI Jadi Pusat Studi Al-Quran Dunia, Tidak Hanya di Timur Tengah
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Lowongan Kerja Fasilitator BSPS 2026 Tahap 2 Jawa Timur Dibuka, Ini Kualifikasinya
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.