Indeks utama bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Jumat (6/3), setelah muncul sinyal pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) di tengah lonjakan tajam harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Senin (9/3), laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa ekonomi AS mulai melambat. Situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga energi melonjak. Kombinasi keduanya dinilai berpotensi mempersempit ruang gerak bank sentral AS dalam menentukan kebijakan suku bunga.
"Konflik ini tampaknya akan berlangsung jauh lebih lama dari yang diharapkan banyak orang, dan harga minyak pun meningkat sebagai akibatnya," kata Kristina Hooper, Kepala Ahli Strategi Pasar di Man Group di New York.
"Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah The Fed bahkan mampu menurunkan suku bunga,” imbuhnya.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55 dan mencatat penurunan mingguan terdalam sejak awal April 2025.
Sementara itu, indeks S&P 500 dan indeks Russell 2000 melemah 1,33 persen ke posisi 6.740,00, mencatat kinerja mingguan terburuk sejak pertengahan Oktober serta penurunan terdalam sejak awal Agustus. Nasdaq Composite juga turun 1,59 persen ke level 22.387,68.
Lonjakan harga minyak dipicu serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Selain itu, Qatar memperingatkan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga 150 dolar AS per barel.
Harga minyak mentah berjangka AS naik lebih dari 12 persen pada Jumat menjadi di atas USD 90 per barel. Sementara harga minyak Brent naik sekitar 8,5 persen ke level USD 92 per barel.
"Kita semakin mendekati harga minyak $100 per barel setiap harinya, dan hal itu telah menyebabkan volatilitas dan kecemasan yang jauh lebih besar," kata Michael Arone, Kepala Strategi Investasi di State Street Investment Management.
Kekhawatiran investor juga tercermin dari lonjakan Indeks Volatilitas Cboe (VIX) sebesar 5,74 poin ke level 29,49, penutupan tertinggi sejak April 2022.
Kenaikan harga minyak meningkatkan ekspektasi naiknya biaya produksi perusahaan serta tekanan terhadap laba. Kondisi ini berpotensi memperketat kredit dan biasanya berdampak negatif bagi sektor perbankan.
Indeks S&P 500 Banks yang melacak saham bank-bank besar AS turun 2,03 persen. Saham BlackRock merosot 7,1 persen setelah perusahaan membatasi penarikan dana dari salah satu dana kredit swasta utamanya.
Sementara itu, saham Western Alliance anjlok 8,4 persen setelah menggugat Jefferies terkait pembayaran pinjaman yang berkaitan dengan pemasok suku cadang otomotif bangkrut, First Brands Group. Saham Jefferies juga turun tajam 13,5 persen.
Di sisi lain, pelemahan pasar tenaga kerja AS terjadi di tengah aksi mogok pekerja layanan kesehatan serta cuaca musim dingin yang buruk. Tingkat pengangguran tercatat naik menjadi 4,4 persen.
Sektor perjalanan ikut tertekan akibat lonjakan biaya bahan bakar. Sub-indeks S&P Passenger Airlines yang melacak saham maskapai penumpang turun 4,07 persen.
Sebaliknya, saham sektor energi di indeks S&P 500 justru naik tipis 0,13 persen karena prospek pendapatan yang lebih tinggi seiring kenaikan harga energi.
Aset safe-haven seperti emas naik 1,83 persen, sementara bitcoin melemah 4,30 persen.
Dari sisi emiten, saham perusahaan chip Marvell Technology melonjak 18,4 persen setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan fiskal 2028 melampaui perkiraan pasar.
Volume perdagangan di bursa saham AS mencapai 19,95 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 17,82 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.





