Jusuf Kalla Gelar Pertemuan dengan Ekonom Bahas Dampak Konflik AS-Iran ke Fiskal RI 

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar pertemuan dengan sejumlah ekonom di kediamannya untuk membahas nasib fiskal RI di tengah konflik AS-Iran.

Jusuf Kalla Gelar Pertemuan dengan Ekonom Bahas Dampak Konflik AS-Iran ke Fiskal RI. (Foto: Iqbal Dwi Purnama/iNews Media Group) 

IDXChannel - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar pertemuan dengan sejumlah ekonom di kediamannya untuk membahas nasib fiskal RI di tengah ketegangan konflik Amerika Serikat–Iran.

Ia mengatakan pemerintah perlu melakukan banyak evaluasi dan tindakan untuk menjaga perekonomian agar terhindar dari krisis yang terjadi pasca konflik geopolitik. 

Baca Juga:
Purbaya Pertimbangkan Naikkan Harga BBM Bersubsidi Demi Jaga Defisit APBN

Ia menyebut perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh tiga aspek, yaitu sentimen global, kondisi masa lalu, dan kebijakan saat ini.

"Kita tidak bisa mengubah (kondisi) luar negeri, kita tidak bisa mengubah masa lalu, kita hanya bisa memberikan perhatian pada kebijakan sekarang," ujarnya dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu malam (8/3/2026).

Baca Juga:
Purbaya Tegaskan Konflik Iran-AS Tak Ganggu Keuangan Indonesia, Defisit APBN Terkendali

(Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar pertemuan dengan para ekonom di kediamannya. Foto: Iqbal Dwi Purnama/iNews Media Group)

Baca Juga:
JK Soroti Potensi Dampak Kenaikan Harga BBM ke APBN Akibat Perang Iran-Israel

Pada kesempatan yang sama, Senior Researcher Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat UI, Vid Adrison, mengatakan kondisi fiskal RI cukup sempit untuk menghadapi ketidakpastian global akibat konflik geopolitik. Ia menilai konflik yang terjadi bisa menyebabkan lonjakan harga energi dan berujung pada peningkatan inflasi.

"Pemerintah jika ingin mengendalikan, terpaksa harus meningkatkan subsidi. Tapi ruang fiskal kita terbatas," katanya.

Baca Juga:
Airlangga Tekankan Penguatan Pasar Dalam Negeri di Tengah Konflik Timur Tengah

Selain itu, konflik ini bisa menimbulkan perlambatan ekonomi dunia. Hal ini berimplikasi pada kinerja ekspor RI yang saat ini memberikan kontribusi terhadap perekonomian, sehingga berpotensi terganggu.

Baca Juga:
Purbaya Proyeksi Defisit APBN Bisa Capai 3,7 Persen Jika Harga MInyak Tembus USD92 per Barel

Kondisi ini, kata Vid Adrison, mengharuskan pemerintah melakukan relokasi anggaran ke hal-hal yang lebih produktif. Salah satu usulan konkret untuk mengantisipasi ketidakpastian ini adalah mempertimbangkan kembali program MBG.

"MBG itu membutuhkan duit yang luar biasa besar, sekitar 8 persen dari APBN. Tapi data dari Susenas hanya ada 15 persen masyarakat yang mengatakan mereka khawatir tidak memiliki makanan cukup," lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Managing Director PEPS Anthony Budiawan menilai pemerintah perlu melakukan revisi terhadap UU APBN. Hal ini perlu dilakukan untuk relokasi anggaran ke program-program yang lebih produktif.

"Otomatis kalau pengalihan dari belanja ke belanja lain, otomatis diperlukan UU APBN yang baru. Karena kalau tidak ya melanggar, karena UU APBN itu diatur sampai organisasi, fungsi, dan program, jadi harus dilakukan," kata dia. 

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jangan Tergiur Harga Kendaraan Bekas, Kenali Ciri BPKB dan STNK Palsu
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Port Vale vs Sunderland, The Black Cats Disingkirkan Klub Divisi III dari Piala FA
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Waspada! Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di DIY hingga Kamis
• 36 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Menunjuk Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Baru, Harga Minyak Lompat
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Koalisi Sipil Nilai Status Siaga 1 dari Panglima TNI Inkonstitusional
• 10 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.