Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Teheran menyatakan pemilihan Pemimpin Agung adalah urusan domestik yang tidak memerlukan persetujuan Amerika Serikat
Pemerintah Iran menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan negara sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran, bukan di bawah kendali Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap klaim Presiden AS Donald Trump yang menuntut peran dalam menentukan Pemimpin Agung Iran berikutnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC pada Minggu 8 maret 2026, menyatakan keberatan keras atas upaya campur tangan asing dalam urusan domestik Teheran.
"Kami tidak mengizinkan siapa pun mencampuri urusan dalam negeri kami. Adalah hak rakyat Iran untuk memilih pemimpin baru mereka," ujar Araghchi.
Ketegangan Pasca-Wafatnya Khamenei
Diskusi mengenai suksesi ini memanas setelah wafatnya Ali Khamenei di tengah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, yang kini telah memasuki hari kesembilan. Di Washington, Presiden Trump bersikeras bahwa calon pengganti Khamenei harus mendapatkan persetujuan dari pihak Gedung Putih.
"Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami," kata Trump kepada ABC News. "Jika dia tidak mendapatkan persetujuan kami, dia tidak akan bertahan lama."
Tuntutan Permintaan Maaf
Selain menolak intervensi politik, Araghchi mendesak Trump untuk meminta maaf kepada rakyat Iran dan kawasan Timur Tengah atas kerugian dan kehancuran yang dipicu oleh konfrontasi militer tersebut.
Ia menegaskan bahwa serangan rudal Iran yang mengenai negara tetangga sebenarnya ditujukan kepada basis militer Amerika Serikat sebagai bentuk pertahanan diri.
"Rudal kami tidak dapat menjangkau wilayah AS. Apa yang bisa kami lakukan adalah menyerang pangkalan dan instalasi Amerika di sekitar kami," jelas Araghchi, merujuk pada ketidakmampuan teknis rudal Iran untuk melakukan serangan transkontinental saat ini.
Meski Trump mengklaim rudal Iran akan segera mampu menyerang daratan Amerika Serikat, penilaian intelijen AS pada tahun 2025 menunjukkan fakta berbeda.
Laporan tersebut menyatakan bahwa Teheran belum memiliki rudal balistik antarbenua (ICBM) dan diprediksi baru bisa mengembangkan kekuatan tersebut pada tahun 2035.
Editor: Redaksi TVRINews





