Presiden Korsel Perintahkan Pembatasan Harga BBM usai Minyak Melonjak Dekati US$120

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung memberikan perintah pembatasan harga bahan bakar minyak (BBM) segera seiring dengan upaya menahan lonjakan biaya energi imbas konflik di Timur Tengah.

Dilansir Bloomberg, Senin (9/3/2026), Lee menyampaikan kepada para pejabat dalam pertemuan ekonomi darurat bahwa pemerintah harus segera menerapkan sistem harga bahan bakar maksimum secara tegas untuk mencegah kenaikan harga yang berlebihan. 

Pernyataan Lee muncul ketika harga minyak global melonjak mendekati US$120 per barel, level tertinggi sejak 2022, di tengah meningkatnya risiko pasokan. 

Pemasok minyak di Timur Tengah telah menurunkan produksi, Selat Hormuz tertutup secara efektif, dan AS telah mengancam untuk meningkatkan konflik yang telah mengguncang pasar energi.

Diketahui, Korea Selatan mengimpor hampir seluruh pasokan energinya, dengan sekitar 70% kargo minyak biasanya dikirim melalui Selat Hormuz. 

Langkah untuk memberlakukan pembatasan harga ini pertama kalinya digunakan dalam hampir 30 tahun terakhir, dan menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menstabilkan pasar energi domestik karena ketegangan geopolitik mengganggu rantai pasokan.

Baca Juga

  • Inflasi China Melonjak ke Level Tertinggi dalam 3 Tahun, Ditopang Imlek dan Harga Minyak
  • Misi Penyelamatan APBN Ketika Tekanan Harga Minyak Terus Meningkat
  • Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Bitcoin Turun ke Level Terendah 7 Hari

Menurut Korea National Oil Corp., harga rata-rata bensin eceran di SPBU adalah 1.895,32 won (US$1,27) per liter pada hari Minggu kemarin, naik sekitar 12% dari 1.692,89 won pada 28 Februari 2026, ketika AS memulai serangan udaranya di Iran.

Kemarin, Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan mengatakan pemerintah dapat menerapkan pembatasan harga bahan bakar dengan cepat jika kondisi pasar memburuk.

“Kami hampir menyelesaikan persiapan. Kami berencana untuk memantau kondisi pasar dan menanggapi sesuai dengan itu,” kata Kim kepada wartawan setelah kembali dari perjalanan ke AS.

Tanggapan awal akan berupa pelepasan dari cadangan minyak strategis negara tersebut. Jumlah tersebut mencapai sekitar 100 juta barel atau cukup untuk memenuhi konsumsi lebih dari 210 hari, kata Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan.

Secara terpisah, Kim mengadakan pertemuan darurat dengan perusahaan domestik dan kelompok industri untuk meninjau harga bahan bakar lokal, memperingatkan perusahaan agar tidak memanfaatkan lonjakan harga minyak mentah global.

“Pemerintah akan meminta pertanggungjawaban siapa pun yang berupaya memanfaatkan kenaikan harga minyak global dengan cara yang merusak upaya kita untuk menstabilkan harga konsumen,” kata Kim.

Seoul juga sedang mempersiapkan langkah-langkah darurat untuk menstabilkan pasokan setelah pemasok petrokimia Yeochun NCC Co. menyatakan keadaan kahar (force majeure) pekan lalu karena gangguan impor nafta menyusul gejolak di Timur Tengah. 

Kim mengatakan  bahwa perusahaan tersebut, yang lebih bergantung pada bahan baku petrokimia daripada operasi penyulingan terintegrasi, tampaknya lebih rentan terhadap gangguan pasokan.

Para pejabat sedang meninjau situasi tersebut dan akan segera mengumumkan langkah-langkah terkait pasokan nafta, tambah menteri tersebut.

Korea Selatan juga berupaya untuk mendiversifikasi pasokan dan mengamankan kargo alternatif dari wilayah di luar Timur Tengah. Uni Emirat Arab pekan lalu menawarkan pengiriman minyak mentah yang akan melewati Selat Hormuz.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Longsor Sampah di TPST Bantargebang Telan Korban Jiwa, KLH Segera Panggil Pengelola
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Soal Percepatan Penerbitan Perhutanan Sosial, Menhut: Itu Arahan Presiden Prabowo
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
All England: Kalahkan Tunggal India, Lin Chun-Yi Juara!
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ramadhan di Balik Jeruji Lapas Cipinang: Saat Para Warga Binaan Menemukan Jalan Pulang
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Telegram Siaga 1 TNI Menuai Kontroversi, Koalisi Sipil Desak Evaluasi Pemerintah
• 10 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.