Fitri Ariyanit Abidin, dosen dan psikolog Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran menyebut tanda-tanda kecenderungan bunuh diri pada anak dan remaja di Indonesia kian mengkhawatirkan. Dia menilai situasi ini perlu dipandang sebagai masalah serius.
Tekanan sekolah, beban ekonomi keluarga, serta terbatasnya dukungan kesehatan mental membuat sebagian anak berada dalam kondisi rentan, sementara banyak kasus tak tercatat karena stigma dan pelaporan yang lemah.
“Kita sering menganggap anak ‘cuma capek’ atau ‘cuma drama’. Padahal, untuk sebagian anak, ini soal bertahan hidup,” ujar pimpinan Pusat Studi Hubungan, Kehidupan Keluarga, dan Pengasuhan Unpad ini seperti dilansir dari 360 Info, Senin (23/2/2026).
Perhatian publik kembali menguat setelah muncul kasus bunuh diri yang melibatkan siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur. Di sisi lain, skrining kesehatan mental terhadap 148.239 siswa di Bandung menemukan 71.433 anak atau 48,19 persen menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental. Temuan ini memunculkan peringatan bahwa bantuan di sekolah saja sering tidak cukup, sehingga diperlukan dukungan profesional yang lebih memadai.
Fitri menekankan pentingnya respons cepat dan empatik saat anak menunjukkan tanda-tanda distress. “Kalau ada sinyal bahaya, jangan tunggu anak ‘membaik sendiri’. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluangnya untuk pulih,” katanya.
Data lain juga menggambarkan beban yang besar namun kerap tersembunyi. Survei Kesehatan Siswa Berbasis Sekolah Global 2023 mencatat 8,7 persen siswa Indonesia pernah mempertimbangkan bunuh diri secara serius dalam setahun terakhir, dan 10,4 persen pernah mencoba bunuh diri.
Studi terpisah pada lebih dari 2.300 siswa SMA di empat provinsi di Jawa melaporkan tingginya angka pikiran bunuh diri, termasuk yang terjadi dalam 12 bulan terakhir, serta adanya siswa yang mengaku sempat merencanakan mengakhiri hidupnya.
Menurut Fitri, faktor pemicu pada anak dan remaja biasanya saling bertumpuk: tekanan akademik, konflik keluarga, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, perundungan, kesepian, hingga tekanan ekonomi. “Biasanya bukan satu kejadian. Ini akumulasi. Anak seperti menanggung beban yang terasa terlalu berat untuk usianya,” ujar Fitri.
Ia juga mengingatkan agar orang dewasa peka terhadap perubahan perilaku. “Ketika anak mendadak menarik diri, prestasinya turun drastis, sulit tidur, atau tampak kehilangan minat, itu bukan sekadar ‘lagi malas’. Itu bisa jadi tanda minta tolong,” kata Fitri.
Fitri mendorong penguatan faktor pelindung, terutama relasi yang aman di rumah dan sekolah. “Yang paling dibutuhkan anak bukan ceramah. Mereka butuh didengar tanpa dihakimi, dan merasa punya tempat pulang secara emosional,” ucapnya.
Ia menilai program anti-perundungan, skrining rutin, literasi kesehatan mental untuk guru dan orang tua, serta jalur rujukan yang jelas menjadi kunci pencegahan.
“Memperluas akses ke layanan kesehatan mental yang ramah remaja, terutama di daerah pedesaan dan berpenghasilan rendah, akan membantu memastikan bahwa pemuda dewasa menerima dukungan tepat waktu,” pungkasnya.
PERINGATAN: Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.
Jika Anda memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, jangan ragu bercerita, konsultasi, atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Terlebih apabila pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri.
Untuk konsultasi, Anda dapat menghubungi nomor Hotline Rumah Sakit Jiwa Menur di 031502165. Atau mengakses layanan Love Inside Sucide Awareness (LISA) Kementerian Kesehatan di Call Center 119 atau 081380073120 (WhatsApp).(iss)



