RS Soeharto Heerdjan Tolak Ungkap Kondisi Wanita Viral yang Dibawa Suami ke RSJ, Kenapa?

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah Sakit Soeharto Heerdjan (RSSH), Jakarta Barat, tidak dapat mengungkap hasil pemeriksaan medis maupun diagnosis kejiwaan seorang wanita berinisial EO yang videonya viral di media sosial.

Direktur Utama RS Soeharto Heerdjan Soeko W. Nindito mengatakan, informasi tersebut merupakan bagian dari rekam medis yang dilindungi kerahasiaannya. Karena itu, pihak rumah sakit tidak memiliki kewenangan untuk mempublikasikan diagnosis pasien kepada masyarakat.

"Kita semua harus paham bahwa kalau memang itu diminta, yang bisa merilis itu sebetulnya pasien sendiri, keluarga pun bukan. Karena rekam medik itu adalah milik pasien," ungkap Soeko dalam konferensi pers di RSSH, Senin (9/3/2026).

Baca juga: Viral Istri Dimasukkan ke RSJ oleh Suami, Kenapa Tangan dan Kakinya Diikat?

Soeko menyadari sikap rumah sakit yang tidak membuka detail diagnosis berpotensi memicu spekulasi di tengah publik. Namun, ia menegaskan pihak rumah sakit tetap terikat sumpah profesi untuk menjaga kerahasiaan rekam medis pasien.

Meski demikian, ia memastikan EO datang ke rumah sakit dengan kondisi yang membutuhkan penanganan terkait kesehatan mental.

"Saya tidak bisa terlalu bebas menyampaikan diagnosisnya karena itu menjadi hak pasien. Jadi kalau saya sampaikan misalnya diagnosisnya adalah ini gitu, nanti saya malah salah lagi. Tapi yang pasti, dia datang ke sini diantar keluarganya dengan kesadaran semuanya," kata dia.

Bantah isu surat keterangan palsu

Di media sosial sempat beredar narasi yang menuduh suami EO membawa surat keterangan palsu yang menyatakan istrinya telah dikategorikan sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) selama satu bulan untuk mempermudah proses rawat inap.

Menanggapi hal tersebut, Soeko memastikan seluruh tindakan medis yang dilakukan rumah sakit didasarkan pada hasil pemeriksaan langsung terhadap pasien saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), bukan berdasarkan surat rujukan dari pihak luar.

"Kami enggak berdasarkan surat-surat seperti itu, tapi pemeriksaan yang kami di rumah sakit. Masa orang datang, ya kami buktikan dulu gitu loh. Ternyata benar gejalanya seperti itu, sehingga kami (beri) treatment seperti itu," ucap Soeko.

Menurut dia, keputusan medis diambil berdasarkan kondisi pasien yang ditemukan saat pemeriksaan berlangsung.

Baca juga: RS Soeharto Heerdjan Buka Suara soal Istri Dipaksa Masuk Poli Jiwa oleh Suami

Ia juga menjelaskan, sebelum dirawat di RSSH, pasien sempat dibawa ke rumah sakit lain. Namun, pasien kemudian disarankan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan khusus kesehatan mental, yakni RSSH.

"Kalau orang datang ke rumah sakit pasti butuh bantuan, tinggal dua masalahnya, masalah fisik atau masalah psikis. Nah kebetulan datang ke sini dengan masalah psikisnya. Kalau disebut gejalanya apa, ya sama aja saya kasih laporan rekam medik dong," ujarnya.

Di tengah polemik yang berkembang, sebagian warganet menilai EO tidak mengalami gangguan kesehatan mental karena masih aktif menggunakan media sosial dan mengunggah berbagai postingan terkait kasus tersebut.

Menanggapi asumsi tersebut, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) RSSH, Ismoyo, menjelaskan pasien dengan gangguan mental memiliki dinamika kondisi yang berbeda-beda.

"Di dalam gangguan jiwa itu ada gejala yang membuat pasien tidak mengerti bahwa dirinya sakit. Istilah kami 'tilikan' pasien ini memang terganggu. Banyak pasien bukan hanya satu dua pasien.. Tidak merasa dirinya sakit sehingga wajar sekali bahwa mereka merasa dipaksa untuk berobat," jelas Ismoyo.

Baca juga: Akhirnya, Perempuan Viral Sering Tak Bayar Ojol dan Makan Ditangkap dan Dibawa ke RSJ

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menambahkan, gangguan kesehatan mental memiliki spektrum yang luas dan tidak semua pasien kehilangan kemampuan merawat diri atau hidup terlantar di jalanan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Dunia Naik, Kemenperin Jaga Kualitas Produk Perhiasan Nasional
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Terungkap, Fakta Kondisi Sebenarnya Richard Lee di Tahanan
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Momen Istri Vidi Aldiano, Sheila Dara Menghadiri Pemakaman di TPU Tanah Kusir
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Rebana Didorong Jadi Kawasan Industri, Kuningan Pilih Jalur Hijau
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Titip Pesan ke DPR: Orang Kecil Berperkara, Harus Dapat Keadilan
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.