Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pariwisata PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) memproyeksikan momentum libur Lebaran 2026 bakal berkontribusi sebesar 6% terhadap pendapatan tahunan perseroan.
Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) Daniel Windriatmoko, menerangkan bahwa pihaknya menetapkan periode libur Lebaran pada 19 Maret—3 April 2026. Ratusan ribu pengunjung diprediksi bakal memenuhi Ancol pada periode ini.
”Target pengunjung yang dicanangkan sebanyak 600.000 orang selama periode tersebut. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 10% dibandingkan periode libur Lebaran tahun lalu,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Dengan begitu, Ancol turut memproyeksikan kontribusi pendapatan sebesar hingga 6% dari momentum libur Lebaran 2026. Namun, Daniel tidak menutup kemungkinan ihwal kondisi ekonomi yang kian tidak pasti.
”Periode libur Lebaran ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap revenue perusahaan, kurang lebih sebesar 6% meski kondisi ekonomi masih cukup menantang,” katanya.
Di satu sisi, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang, menerangkan bahwa secara historis, periode Ramadhan dan Lebaran merupakan peak season bagi sektor konsumer dan pariwisata.
Baca Juga
- Jaya Ancol (PJAA) Terima Ganti Rugi Proyek Jalan Tol Wiyoto Wiyono Rp175 Miliar
- Ancol (PJAA) Targetkan 700.000 Kunjungan di Libur Natal dan Tahun Baru 2025
- Terdampak Daya Beli, Ancol (PJAA) Proyeksi Jumlah Pengunjung Turun 6%
Bahkan, pada beberapa emiten, kontribusi penjualan pada periode tersebut mampu berkontribusi 20—30% terhadap pendapatan perseroan yang bergerak di sektor makanan, minuman, ritel, hingga transportasi dan perjalanan.
”Untuk 2026, stimulus pemerintah serta pencairan THR berpotensi tetap menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek sehingga aktivitas konsumsi jelang Lebaran diperkirakan masih meningkat,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Hanya saja, Alrich memprediksi kontribusi momentum Lebaran terhadap pendapatan tahunan, tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebut disebabkan oleh beberapa faktor eksternal, seperti ketidakpastian geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi, potensi tekanan inflasi, hingga volatilitas pasar keuangan.
”Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran selama periode Lebaran. Dengan demikian, meskipun momentum musiman tetap positif, pertumbuhan penjualan kemungkinan tidak seagresif tahun sebelumnya,” katanya.





