Harga minyak meroket melewati 100 dolar AS per barel di tengah dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kenaikan di atas 100 dolar AS per barel, jadi yang pertama kali sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Pada Minggu (8/3/2026), minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 20 persen, dan harganya tercatat meroket lebih dari 114 dolar AS per barel, seiring meningkatnya kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pasokan energi global.
Meski begitu, Donald Trump Presiden AS optimis kenaikan harga minyak mentah tidak akan berlangsung lama.
“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia,” kata Trump di Truth Social, seperti dilansir Al Jazeera, Senin (9/3/2026).
Chris Wright Menteri Energi AS juga menganggap enteng kenaikan harga minyak tersebut. Katanya kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara.
Padahal harga minyak mentah telah melonjak sekitar 50 persen sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Imbas perang, Iran telah menghentikan secara efektif pengiriman barang di Selat Hormuz, mengancam sekitar seperlima pasokan minyak global.
Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait adalah produsen terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). ketiganya telah memangkas produksi di tengah penumpukan cadangan minyak yang tidak dapat dikirim karena penutupan Selat Hormuz.
Iran dituduh bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap fasilitas energi di seluruh Teluk, termasuk di Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Sementara Israel melakukan serangan udara yang menargetkan infrastruktur minyak Iran untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang pada Sabtu (7/3/2026).
Media pemerintah Iran mengabarkan, serangan tersebut menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak, dan sebuah pusat transfer produksi minyak di Teheran dan provinsi Alborz.(lea/ipg)




