Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, MPR Ingatkan Risiko Tekanan APBN

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mulai mewaspadai potensi kenaikan harga BBM imbas melonjaknya harga minyak mentah global.

Adapun, kenaikan harga minyak global tak lepas dari konflik Timur Tengah yang memanas. Tercatat, saat ini, harga minyak global telah menyentuh level di atas US$100 per barel. 

Angka itu telah melampaui harga minyak dalam asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026, yakni US$70 per barel.

Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mengatakan, kenaikan harga minyak global yang drastis akan membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk waktu yang sulit diprediksi.

Hal itu dia sampaikan usai melakukan zoom conference call dengan sejumlah pengamat migas di Singapura dan Tokyo, Senin (9/3/2026).

Eddy menyebut, China, India, Jepang, dan Korea sebagai negara-negara yang mengandalkan pasokan migasnya dari Timur Tengah tentu akan mencari alternatif baru. Alternatif itu termasuk ke Nigeria, Angola, dan Brazil yang juga merupakan negara pemasok migas bagi Indonesia.

"Artinya, kita berpeluang ‘berebut’ suplai minyak mentah dengan negara-negara raksasa pengimpor migas," ungkap Eddy melalui keterangan resmi.

Dia menjelaskan, implikasi kenaikan harga minyak mentah bagi Indonesia cukup menantang mengingat kebutuhan migas nasional mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Pada saat harga minyak mentah naik secara signifikan dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar melemah, maka beban impor migas menjadi semakin berat.

“Apalagi harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah US$70, dan defisit terhadap PDB [produk domestik bruto] di angka 2,68%. Maka dengan kenaikan harga migas di atas US$100 per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6%, sebagaimana diungkapkan pejabat di Kementerian Keuangan," kata Eddy.

Dia mengatakan, pada 2025, Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah dan 37,8 juta ton produk petroleum senilai US$32,8 miliar atau sekitar Rp551 triliun. 

Dengan asumsi volume impor yang sama, kebutuhan devisa saat ini akan meningkat untuk membeli produk migas dengan harga yang lebih tinggi serta kurs rupiah yang semakin melemah.

“Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi tidak hanya dari kenaikan harga migas saja. Namun, juga ketersediaan pasokan," imbuh Eddy.

Dia menekankan bahwa security of supply menjadi sangat penting karena defisit neraca migas global akibat penutupan Selat Hormuz akan membuat sejumlah negara pontang-panting mencari substitusinya. 

"Banyak di antara negara tersebut bersedia membeli produk migas dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran," terangnya.

Kendati demikian, Eddy meyakini bahwa pemerintah telah mempersiapkan alternatif sumber pasokan impor dari negara lain, misalnya Amerika Serikat sehingga Indonesia memiliki diversifikasi sumber pasokan yang memadai.

“Yang betul-betul perlu kita perhatikan adalah sejauh mana ketahanan fiskal dari negara-negara pengimpor migas dalam memenuhi kebutuhan migasnya ketika harga semakin melambung untuk waktu yang cukup panjang?" tutupnya.

Baca Juga

  • Purbaya Klaim Kas Cukup, Pastikan Harga BBM Tak Naik!
  • Minyak Global Melonjak, Ekonom Minta Pemerintah Tahan Kenaikan Harga BBM
  • Purbaya Kirim Sinyal Naikkan Harga BBM Subsidi Imbas Perang AS-Iran

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Donny Fattah dan Editorial
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Takjil: Dari Anjuran Berbuka hingga Tradisi Berbagi di Bulan Ramadan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Imsakiyah Hari Ini 9 Maret 2026: Keberkahan Pagi untuk Warga Jakarta
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
RS Soeharto Heerdjan Tolak Ungkap Kondisi Wanita Viral yang Dibawa Suami ke RSJ, Kenapa?
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Telegram Siaga 1 TNI Menuai Kontroversi, Koalisi Sipil Desak Evaluasi Pemerintah
• 19 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.