Bisnis.com, JAKARTA — Cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan semakin tergerus seiring pelemahan rupiah akibat tekanan global, terutama imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun sudah semakin menipis, hingga tersisa US$151,9 miliar. Jumlah itu kian susut, dari posisi awal pada Januari 2026 sebesar US$154,6 miliar.
Bank Indonesia (BI) mengakui cadangan devisa menyusut akibat langkah intervensi moneter yang dilakukan ketika deretan sentimen sejak awal tahun menekan rupiah. Belum lagi, pembayaran utang luar negeri pemerintah turut mengurangi porsi cadangan devisa.
Kendati demikian, bank sentral memastikan kecukupan cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kemudian, kecukupannya berada di atas standar internasional yaitu sekitar 3 bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melalui siaran pers, Jumat (6/3/2026).
Ramdan menyampaikan bank sentral meyakini ke depannya sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing. Optismisme itu bersandar kepada persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Baca Juga
- Cadangan Devisa Februari 2026 US$151,9 Miliar, Susut dari Posisi Awal Tahun
- Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Januari 2026 Turun ke Rp2.596 Triliun
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Defisit Setelah 7 Tahun, Ini Kata Menkeu Purbaya
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.
Asesmen serupa disampaikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Perdede. Dia meyakini cadangan devisa saat ini masih tergolong kuat untuk menghadapi gejolak pendek, termasuk tensi geopolitik yang saat ini berkecamuk khususnya di kawasan Timur Tengah.
Namun, Josua mengingatkan bahwa cadangan devisa yang saat ini masih cukup, bukan berarti tidak terbatas. Apalagi, faktor penurunannya pada Februari 2026 ini disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi rupiah, sedangkan kajian internal juga menilai dalam jangka waktu penurunan masih berpotensi terjadi jika ketegangan geopolitik berlanjut.
Seperti yang telah dilakukan awal tahun ini, cadangan devisa diperkirakan bakal digunakan dengan maksimal untuk menstabilkan rupiah yang sudah sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
"Tekanan terhadap rupiah sangat berpotensi meningkat bila konflik yang berdampak pada Selat Hormuz berlangsung lama," terang Josua kepada Bisnis.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkirakan datang bersamaan dengan naiknya kebutuhan devisa untuk impor energi. Terkait dengan harga minyak, Josua menyebut dalam simulasi yang ada, konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak ke atas US$75 sampai dengan US$100 per barel.
Sementara itu, gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur logistik laut dapat semakin mendorong harga minyak ke atas yaitu sampai dengan US$130 per barel.
Oleh sebab itu, BI diperkirakan bakal lebih cenderung memprioritaskan stabilitas rupiah dan menggunakan cadangan devisa. Bahkan, instrumen lain yang dimiliki bank sentral yaitu ruang suku bunga diperkirakan terbatas ketika rata-rata harga minyak mencapai US$75 per barel dan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 sekitar Rp16.750 per dolar AS.
Josua turut memperkirakan kebijakan moneter dapat menjadi lebih ketat bila harga minyak mencapai rata-rata US$80 per barel dan rupiah mendekati Rp17.000 per dollar AS.
"Kenaikan harga minyak akibat gangguan jalur energi global juga memang dapat mendorong penurunan cadangan devisa Indonesia. Sebab, saat harga energi naik, nilai impor ikut membesar, surplus perdagangan tertekan, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar, dan kebutuhan Bank Indonesia untuk menjaga rupiah ikut meningkat," ujarnya.
Dari segi defisit transaksi berjalan, Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan bisa melebar sekitar 0,48 poin persetase apabila rata-rata harga minyak dunia mencapai US$85 per barel tahun ini.
"Risiko ini menjadi lebih penting karena surplus perdagangan Januari 2026 sudah turun menjadi US$0,95 miliar dolar AS dan pertumbuhan impor sudah lebih cepat daripada ekspor. Jadi, jalur penurunan cadangan devisa dapat datang sekaligus dari membengkaknya tagihan impor energi dan dari penggunaan devisa untuk menstabilkan nilai tukar," pungkasnya.
WASWAS TRANSAKSI BERJALANDi tengah situasi saat ini, terdapat kerisauan pula terhadap Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang melemah seiring jatuhnya ekspor, serta kenaikan impor.
Surplus neraca dagang bahkan menyempit pada Januari 2026 ke US$954,3 juta atau terendah sejak Maret 2025 yakni US$158,8 juta.
Risiko dari melandainya perdagangan global ini bisa memengaruhi defisit transaksi berjalan, lantas berimbas terhadap neraca pembayaran. Pada kuartal IV/2025, defisit transaksi berjalan atau current account deficit sebesar US$2,5 miliar atau 0,7% terhadap PDB.
Sepanjang 2025, transaksi berjalan defisit US$1,5 miliar atau 0,1% terhadap PDB. Kendati defisitnya lebih susut dari 2024 yakni US$8,6 miliar atau 0,6% terhadap PDB, neraca pembayaran Indonesia secara umum tahun lalu ditutup dengan defisit US$7,8 miliar. Padahal pada 2024, neraca pembayaran Indonesia masih surplus US$7,2 miliar.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual lebih menggarisbawahi kekhawatiran terkait dengan neraca transaksi modal dan finansial. Sebab, ketahanan eksternal RI tak hanya dipengaruhi oleh neraca perdagangan namun juga transaksi modal dan finansial.
Aliran modal asing keluar atau capital outflow cukup deras keluar tahun lalu sehingga mencatatkan defisit US$4,2 miliar pada neraca transaksi modal dan finansial.
David mengatakan bahwa derasnya aliran modal asing keluar dari pasar keuangan RI bisa semakin menekan neraca pembayaran dari sisi transaksi modal dan finansial. Apalagi, jika diperburuk dengan sejumlah penurunan outlook rating kredit seperti dari Moody's dan Fitch belum lama ini.
"Yang paling khawatir sih mungkin [transaksi] modal dan finansial dari portofolio. Portofolio itu juga kita lihat ada beberapa yang jadi wake up call juga buat kita termasuk [penurunan outlook] rating kan kemarin. Mudah-mudahan ada perbaikan apa yg mereka jadikan kekhawatiran itu tidak terjadi," jelasnya kepada Bisnis.
David menyebut perlunya agar segera dilakukannya pembenahan oleh pemerintah, agar peringatan dari lembaga pemeringkat tidak mencapai perubahan peringkat. Sebab, aliran modal asing pasti akan diawali oleh portofolio baru disusul investasi langsung atau foreign direct investment (FDI).
"Biasanya kalau rating naik, portofolio duluan yang masuk habis itu baru jangkanya menengah panjang, FDI. Turun pun begitu. Kalau turun, outlook-nya berubah, atau rating turun, itu portofolionya duluan yang keluar baru yang keluar FDI-nya. Jadi makanya wake up call bagi kita," pungkasnya.





