JAKARTA, KOMPAS.TV - Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron menyatakan, pihaknya akan melakukan efisiensi usai perang Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran memicu kenaikan harga minyak dunia melampaui 100 dolar AS per barel.
Muhammad Baron menyebut Pertamina akan mengoptimalkan efisiensi operasional di seluruh rantai bisnis perusahaan.
Pertamina juga akan berkomunikasi dengan pemerintah untuk merespons lonjakan harga tersebut.
“Perusahaan mengoptimalkan efisiensi operasional di seluruh rantai bisnis," kata Muhammad Baron, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Iran Punya Pemimpin Baru! Ini Sederet Fakta Mojtaba Khamenei Dipilih Gantikan Ayahnya | BERUT
Sebelumnya, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan mencapai 118 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2022.
Harga ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harga minyak Januari 2026, yakni jenis Brent sebesar 64 dolar AS per barel dan US WTI 57,87 dolar AS per barel.
Baron memastikan Pertamina terus memantau dinamikan harga minyak dunia.
Ia memastikan pasokan BBM di Indonesia masih aman di tengah perang AS-Israel di Iran.
“Pertamina berkomitmen menjaga keandalan operasional serta memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap aman,” kata Muhammad Baron dikutip Antara.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- pertamina
- harga minyak dunia
- harga minyak 100 dolar
- pertamina efisiensi
- perang iran




