Profil Jiang Xueqin, Profesor Cina yang Viral Prediksi AS Kalah Lawan Iran

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Nama Jiang Xueqin viral media sosial setelah mengemukakan prediksi soal geopolitik global. Akademisi asal Beijing ini bahkan dijuluki sebagian warganet sebagai Nostradamus dari Cina setelah tiga ramalannya tentang politik Amerika Serikat dan konflik Timur Tengah viral kembali.

Dalam kuliah daring pada 2024, Jiang Xueqin menyampaikan tiga prediksi besar. Pertama, Donald Trump akan kembali berkuasa pada 2025. Kedua, AS akan terlibat perang dengan Iran.

Lalu ketiga, yang paling kontroversial, Jiang  Xueqin memprediksi AS akan kalah dalam konflik dengan Iran. Menurut dia, jika itu terjadi maka dapat mengubah tatanan global.

Siapa Jiang Xueqin?

Mengutip Firstpost, Jiang Xueqin lahir pada 1976 dan dikenal sebagai pengajar filsafat dan sejarah di Beijing. Ia juga aktif menyampaikan analisis geopolitik melalui kanal YouTube yang diberi nama Predictive History.

Dalam konten yang ia buat, Jiang Xueqin memprediksi masa depan politik dunia dengan menggabungkan pola sejarah, insentif strategis, serta teori permainan.

Selain aktif di dunia akademik, Jiang Xueqin pernah terlibat dalam berbagai inisiatif reformasi pendidikan di Cina. Ia merupakan lulusan Sastra Inggris dari Yale University.

Jiang Xueqin sempat menjabat sebagai wakil kepala sekolah di Shenzhen Middle School pada 200 hingga 2010. Selanjutnya ia menjadi direktur di divisi internasional sekolah menengah yang terafiliasi dengan Peking University di Beijing.

Ia juga pernah menjadi wakil kepala sekolah di sekolah menengah yang terhubung dengan Tsinghua University. Selain itu, Jiang Xueqin sempat menjadi kontributor editor pendidikan untuk situs berbahasa Mandarin milik The New York Times.

Prediksi AS Kalah Lawan Iran

Dalam kuliah daring pada 2024, dua prediksinya terkait Trump menang dalam pemilu AS dan perang AS melawan Iran sudah terjadi. Kini tersisa prediksi tentang kekalahan Washington DC dalam perang dengan Teheran.

Jiang Xueqin berpendapat, konfrontasi militer AS dengan Iran akan berakhir buruk bagi Negara Paman Sam itu. Untuk menjelaskan analisisnya itu, ia membandingkan situasi Iran saat ini dengan peristiwa dalam sejarah Yunani kuno yaitu Ekspedisi Sisilia dalam Perang Peloponnesia.

Saat itu, kota Negara Athena melancarkan kampanye militer besar ke Sisilia untuk melawan Sparta. Namun, ekspedisi tersebut justru berakhir dengan kekalahan telak bagi Athena dan menjadi titik balik yang melemahkan kekuatan mereka dalam perang.

Menurut Jiang Xueqin, kondisi geografis Iran yang dipenuhi pegunungan bisa memberi keuntungan besar jika perang terjadi. Selain itu, ada potensi perlawanan kuat dari dalam negeri yang dapat menyulitkan operasi militer pihak luar dan bahkan berbalik merugikan mereka.

Setelah prediksinya tentang kemungkinan kekalahan AS melawan Iran menjadi viral, Jiang Xueqin kemudian diundang dalam acara televisi Amerika, Breaking Points. Dalam wawancara itu, ia menjelaskan lebih rinci analisisnya tentang bagaimana skenario kekalahan Amerika itu bisa terjadi.

“Berdasarkan analisis saya tentang bagaimana perang ini berlangsung, saya pikir Iran memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan AS,” kata Jiang Xueqin.

Dalam penjelasannya, Jiang Xueqin menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi berubah menjadi perang gesekan yang panjang. Hal ini menjadi situasi yang menurutnya lebih menguntungkan Iran.

Ia menilai selama 20 tahun terakhir, Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik besar dengan Amerika. Menurutnya, latihan militer, pengalaman konflik regional, serta jaringan kelompok sekutu Iran di Timur Tengah dapat memperkuat posisi negara tersebut.

Sejak konflik Juni 2025, ia menilai Iran memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi konflik yang sedang berlangsung saat ini.

“Mereka telah melakukan banyak latihan. Pada Juni 2025, perang 12 hari di mana Iran dapat memeriksa dan menganalisis kemampuan serangan Israel dan Amerika. Dan mereka memiliki banyak waktu, delapan bulan, untuk mempersiapkan diri sepenuhnya untuk serangan baru ini,” kata Jiang Xueqin.

Jiang Xueqin juga menyoroti peran kelompok sekutu atau proksi Iran di kawasan Timur Tengah, seperti Houthi movement di Yaman, Hizbullah di Lebanon, serta Hamas di Gaza. Menurutnya, kelompok-kelompok ini sudah cukup lama berhadapan dengan AS, sehingga mereka memahami cara berpikir dan strategi militer Amerika.

Ia mengatakan bahwa Iran saat ini tidak hanya berhadapan dengan kekuatan militer, tetapi juga menekan sistem ekonomi global. Salah satu caranya adalah dengan menargetkan infrastruktur penting di kawasan Teluk, terutama fasilitas energi dan instalasi vital lain di negara-negara anggota Gulf Cooperation Council atau GCC.

“Pada akhirnya, mereka akan mengincar pabrik desalinasi air, yang merupakan sumber kehidupan negara-negara ini karena mereka tidak memiliki pasokan air tawar,” ujar Jiang Xueqin.  

Sebagai contoh, Jiang Xueqin menyebut jika fasilitas desalinasi di Riyadh, Arab Saudi mengalami kerusakan besar, kota dengan sekitar 10 juta penduduk itu bisa menghadapi krisis air dalam waktu sekitar dua minggu.

Meski pandangannya ramai dibahas di internet, sejumlah analis mengingatkan bahwa prediksi geopolitik seperti ini sangat sulit dipastikan. Ada yang menilai perbandingan sejarah yang ia gunakan cukup menarik, tetapi ada juga yang menilai analisanya masih sangat bergantung pada spekulasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebaran 2026: 8,2 Juta Pemudik Diprediksi Masuk DIY
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Negosiasi Akuisisi Berlanjut, PT Rama Indonesia Incar 59,24% Saham DPUM
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Wanita Tinggal Tulang di Depok Diduga Dibunuh Suami Siri, Pelaku Ditangkap
• 23 jam laludetik.com
thumb
Indonesia dan India Jalin Kerja Sama Sistem Rudal BrahMos
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Tembus 3.264 Aduan: Jabar, Sumut, dan Kalteng Jadi Provinsi Paling Rawan Konflik Agraria
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.