Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak setelah penutupan Selat Hormuz. Hal ini berdampak pada pasokan energi global di tengah meningkatnya konflik Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, Selasa (10/3), Arab Saudi mulai mengurangi produksi minyak di tengah hampir terhentinya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk menjaga operasi ladang minyak tetap berjalan lebih lama tanpa harus menutupnya sepenuhnya ketika kapasitas penyimpanan mulai terisi.
Saudi juga menutup kilang terbesarnya dan Qatar menghentikan operasi fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia setelah serangan drone.
Kuwait Petroleum Corp menurunkan produksi di ladang minyak dan kilang, setelah adanya ancaman Iran terhadap keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Co. (Adnoc) menyatakan tengah mengelola tingkat produksi lepas pantai untuk menyesuaikan kebutuhan penyimpanan.
Saudi Aramco juga mengambil langkah tidak biasa yaitu menawarkan sebagian pasokan minyak untuk pengiriman segera melalui tender. Biasanya perusahaan hanya menjual minyak melalui kontrak jangka panjang.
Perang di Timur Tengah membuat Selat Hormuz nyaris tertutup bagi lalu lintas maritim. Kondisi ini menghambat ekspor dari kawasan penghasil minyak terbesar di dunia dan mendorong harga minyak di London mencapai penutupan tertinggi dalam lebih dari dua tahun, mendekati USD 93 per barel.
Pemangkasan produksi oleh Saudi, UEA dan Kuwait mengikuti langkah negara lain di kawasan. Irak misalnya, yang mulai menahan produksi karena tangki penyimpanan mulai penuh.
Penghentian jalur Hormuz memang berpotensi menghabiskan kapasitas penyimpanan minyak dan bahan bakar dalam hitungan minggu atau bahkan hari.
Pengurangan produksi Kuwait dimulai sekitar 100.000 barel per hari sejak Sabtu dan diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada Minggu. Pengurangan lanjutan akan dilakukan secara bertahap tergantung kapasitas penyimpanan serta kondisi Selat Hormuz.
UEA yang memproduksi lebih dari 3,5 juta barel per hari sebagai produsen terbesar ketiga OPEC memanfaatkan jalur ekspor yang tidak melalui Selat Hormuz, termasuk pipa minyak menuju Fujairah, serta fasilitas penyimpanan internasional untuk menjaga pasokan ke pasar global.
Arab Saudi memproduksi sekitar 10 juta barel minyak per hari dan mengekspor sekitar 7 juta barel per hari. Sebagian pengiriman minyak telah dialihkan dari jalur Selat Hormuz menuju Yanbu di Laut Merah, meskipun kapasitas pipa yang digunakan hanya mampu menyalurkan sekitar 5 juta barel per hari.
Sejumlah analis memperkirakan Arab Saudi memiliki kapasitas penyimpanan minyak yang lebih besar dibanding negara tetangganya di kawasan Teluk. Namun dalam jangka panjang, kapasitas tersebut juga berpotensi penuh jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz terus berlanjut.
Kuwait sebelumnya juga telah menurunkan tingkat pengolahan di kilang-kilangnya karena tangki penyimpanan semakin penuh. Fasilitas pengolahan negara itu, Al-Zour, Mina Al-Ahmadi, dan Mina Abdullah memiliki kapasitas gabungan sekitar 1,4 juta barel per hari.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan harga minyak kemungkinan akan naik selama konflik berlangsung, namun ia memperkirakan harga akan turun dengan cepat setelah perang berakhir. Dia juga menyebut konflik tersebut kemungkinan masih akan berlangsung untuk sementara waktu.
“Kami memperkirakan harga minyak akan naik, dan memang akan naik. Namun harganya juga akan turun. Penurunannya akan sangat cepat. Dan kita akan menyingkirkan kanker besar di muka bumi ini,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/3).





