Bisnis.com, SURABAYA – Okupansi restoran di wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim) meningkat setelah lebih dari 2 pekan bulan Ramadan berjalan. Tingkat keterisian sejumlah restoran bahkan sudah menembus 65%.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Jawa Timur Dwi Cahyono membeberkan peningkatan tersebut didorong oleh tingginya aktivitas buka puasa bersama (bukber) masyarakat selama bulan Ramadan.
Berbagai program iftar yang ditawarkan restoran-restoran pun banyak diminati dan sudah terpesan.
"Okupansi restoran hotel saat ini sudah mencapai sekitar 60%. Kalau untuk restoran yang terpisah ataupun di luar hotel sekitar 65%," beber Dwi, Senin (9/3/2026).
Dwi mengungkapkan pihaknya memprediksi okupansi restoran masih akan berpeluang besar untuk meningkat hingga mendekati Hari Raya Idulfitri. Bahkan bila tidak ada kendala, angka keterisian restoran di Jawa Timur diprediksi bisa menembus 75%.
"Prediksi kami, kalau tidak ada masalah, seperti masalah BBM dan sebagainya, [okupansi restoran di Jawa Timur] diprediksi bisa tembus 75%," ungkapnya.
Baca Juga
- Jelang Idulfitri, KPPU Waspadai Praktik "Tying" Penjualan MinyaKita di Surabaya
- Realisasi Penyaluran KUR di Malang Raya Capai Rp1,12 Triliun
- Gandeng Danantara, Surabaya Akan Bangun PSEL Kedua Berkapasitas 1.000 Ton
Menurutnya, restoran hotel ikut terdongkrak dengan penjualan paket iftar dengan konsep tematik, ragam menu mancanegara hingga Nusantara, serta rentang harga yang menyasar berbagai segmentasi pasar.
Pelaku usaha di industri perhotelan berlomba-lomba memanfaatkan momentum Ramadan untuk mendongkrak pendapatan (revenue) selama periode awal tahun yang biasanya identik dengan musim sepi (low-season), lewat sektor makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B).
Namun, di sisi lain kondisi berbeda terjadi pada tingkat hunian kamar hotel. Selama dua pekan Ramadan berlangsung, okupansi kamar justru turun cukup dalam. "Kalau okupansi kamar hotel jeblok di angka 27%," pungkasnya.





