Motif Menara Kudus, kretek, hingga parijoto tak hanya hadir pada lembaran kain batik untuk pakaian. Di Kudus, Jawa Tengah, ragam motif khas daerah itu juga mulai diterapkan pada sarung dan sajadah, menjadikan perlengkapan ibadah sekaligus medium untuk memperkenalkan identitas budaya lokal.
kumparan berkesempatan melihat langsung ragam sarung dan sajadah batik Kudusan di Muria Batik Kudus di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Minggu (8/3). Pada kain tersebut, motif-motif khas daerah seperti Menara Kudus, kretek, tembakau, cengkeh, hingga parijoto dituangkan dalam teknik batik.
Sarung dan sajadah batik Kudusan dibuat melalui proses pembatikan, baik menggunakan teknik batik tulis maupun kombinasi tulis dan cap. Teknik tersebut membuat setiap kain memiliki karakter yang berbeda.
Pemilik Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, mengatakan sarung dan sajadah batik Kudusan mulai ia produksi sejak 2013. Menurutnya, penamaan Kudusan digunakan untuk menegaskan identitas motif yang terinspirasi dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
"Produknya saya beri nama sarung batik kudusan dan sajadah batik kudusan. Ada nama Kudus sebagai ciri khas dan kebetulan motif kudusan banyak yang cari," katanya, Minggu (8/3).
Motif-motif yang digunakan mengambil inspirasi dari ikon maupun komoditas yang lekat dengan Kabupaten Kudus. Misalnya motif Menara Kudus yang merujuk pada bangunan bersejarah di kota tersebut, serta motif kretek, tembakau, dan cengkeh yang berkaitan dengan sejarah industri rokok di Kudus.
Selain itu, terdapat pula motif parijoto yang terinspirasi dari tanaman khas di lereng Gunung Muria.
Yuli menilai penggunaan batik pada sarung dan sajadah menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menggunakan perlengkapan ibadah dengan sentuhan budaya lokal.
"Kalau terbuat dari batik terkesan lebih klasik. Produk batik tulis ini kan handmade sehingga lebih terlihat karakter Indonesia-nya," ucap Yuli.
Tahun ini, ia membuat sekitar 20 motif baru untuk sarung dan sajadah batik. Kain yang digunakan berbahan dasar katun, dengan ukuran sarung 2,4 meter x 120 sentimeter serta sajadah 70 sentimeter x 110 sentimeter.
Harga sarung batik kudusan berkisar dari Rp 200 ribu sampai Rp 1 jutaan. Senada, harga sajadah batik kudusan sangat terjangkau karena hanya berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.
Produknya itu diperuntukkan bagi kalangan remaja hingga dewasa. Sementara untuk anak-anak bisa custom untuk produk sarungnya.
Seiring waktu, sarung dan sajadah batik Kudusan mulai diminati masyarakat dari berbagai daerah, meski sebagian besar pembelinya masih berasal dari Kabupaten Kudus.
Menurut Yuli, meningkatnya minat terhadap batik juga menjadi peluang untuk memperkenalkan kembali motif-motif khas daerah kepada masyarakat.
"Batik merupakan warisan budaya. Mari generasi muda maupun dewasa bisa berbangga memakai batik. Melestarikan batik artinya membantu pembatik untuk terus berkarya dan memutar perekonomian," imbuhnya.




