Lampung Masih Susah Payah Hadapi Banjir, Apa Solusinya?

kompas.id
20 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah daerah di Lampung masih susah payah menghadapi banjir setiap musim hujan. Meski bisa diprediksi jauh-jauh hari, banjir tetap saja memakan korban jiwa.

Kasus terbaru terjadi di sejumlah daerah di Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan. Banjir muncul seusai hujan deras lebih dari dua jam, Jumat (6/3/2026). Akibatnya, tiga orang tewas terseret air bah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung menyebutkan, korban adalah Diki Cahyana (9), Satriya (10), dan Sayuda (50). Jasad Sayuda ditemukan tidak lama setelah dilaporkan terseret banjir.

Namun, tim SAR gabungan membutuhkan waktu 12 jam untuk menemukan Diki dan Satriya. Jasad mereka ditemukan di aliran sungai di dua lokasi berbeda.

Wahyu Hidayat dari Humas BPBD Lampung mengatakan, hingga Selasa (10/3/2026), sebanyak 44 lokasi di Kota Bandar Lampung terdampak banjir. Dampak terparah di Kecamatan Rajabasa, Tanjung Karang Timur, dan Kecamatan Sukarame.

”Banjir terjadi di permukiman dekat aliran sungai,” kata Wahyu.

Sementara di Kabupaten Lampung Selatan, 14 desa di empat kecamatan terdampak banjir, yakni Jati Agung, Tanjung Sari, Tanjing Bintang, dan Natar. Banjir terjadi akibat tanggul jebol di Kecamatan Tanjung Bintang. Sebanyak 665 keluarga terdampak.

Baca JugaBanjir di Lampung Renggut Korban Jiwa

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung Selatan Nanang Buchori menjelaskan, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan deras dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer dan oseanografi yang mendukung pembentukan awan konvektif secara intensif.

Kondisi ini diperkuat pola konvergensi angin sehingga menyebabkan akumulasi massa udara dan memicu pertumbuhan awan konvektif signifikan. Selain itu, anomali suhu muka laut yang bernilai positif di perairan timur Lampung juga meningkatkan penguapan yang berkontribusi terhadap ketersediaan uap air di atmosfer.

Ketika ruang terbuka hijau terus berkurang, kawasan resapan air hilang, dan sistem drainase tidak diperbaiki secara serius, maka banjir menjadi sesuatu yang hampir pasti terjadi setiap musim hujan.

Pemicu lain adalah profil kelembaban udara yang relatif basah dari lapisan 850-500 milibar. Kondisi itu menunjukkan lingkungan atmosfer yang sangat mendukung pembentukan awan hujan yang tebal dan berkembang secara vertikal.

Analisis indeks labilitas atmosfer juga menunjukkan kondisi atmosfer yang labil sehingga memudahkan terjadinya proses konveksi kuat.

Hal tersebut terkonfirmasi dari pengamatan radar cuaca yang menunjukkan nilai reflektivitas maksimum mencapai 55 dBZ (desibel) pada pukul 14.05 WIB, yang mengindikasikan keberadaan sel awan konvektif dengan intensitas hujan lebat. Di sejumlah lokasi, curah hujan lebih dari 150 milimeter.

Baca JugaKerusakan Sungai Masih Jadi Pemicu Utama Banjir dan Kekeringan

Akan tetapi, selain alam, Direktur Walhi Lampung Irfan Tri Musri mengatakan, banjir yang terus berulang setiap tahun juga menunjukkan kegagalan serius dalam pengelolaan lingkungan dan tata ruang kota. Sampai saat ini, masyarakat masih menanti langkah pemerintah untuk mengatasi persoalan banjir yang tidak kunjung tuntas.

Menurut Irfan, banjir di Bandar Lampung tidak bisa lagi dianggap sebagai bencana alam semata. Semua adalah konsekuensi dari pembangunan kota yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

”Ketika ruang terbuka hijau terus berkurang, kawasan resapan air hilang, dan sistem drainase tidak diperbaiki secara serius, maka banjir menjadi sesuatu yang hampir pasti terjadi setiap musim hujan,” katanya.

Sejumlah faktor utama yang memperparah risiko banjir di Kota Bandar Lampung, lanjut Irfan, adalah minimnya ruang terbuka hijau dan berkurangnya kawasan resapan air.

Selain itu, buruknya sistem drainase, lemahnya pengelolaan sungai, dan persoalan pengelolaan sampah yang belum tertangani secara optimal juga memperparah risiko banjor.

Dia menilai, pemerintah daerah selama ini hanya fokus pada penanganan darurat setelah bencana terjadi, seperti pemberian bantuan kepada korban. Padahal, masyarakat menanti upaya pencegahan yang menyasar akar persoalan banjir secara struktural.

”Persoalan banjir di Bandar Lampung adalah persoalan tata kelola kota. Tanpa perubahan kebijakan yang serius, banjir akan terus terjadi setiap tahun dan masyarakat kembali menjadi korban,” ujarnya.

Dia menambahkan, belum ada langkah signifikan yang mampu mengurangi risiko banjir secara nyata. Pemerintah cenderung mendorong berbagai proyek pembangunan fisik yang tidak memiliki urgensi mengatasi persoalan banjir.

Baca JugaBanjir di Bandar Lampung, Lebih dari  14.000 Rumah Terdampak

Sekretaris Daerah Lampung Marindo Kurniawan menekankan, masalah banjir memerlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Hal itu dikatakan saat memimpin rapat lintas sektor penanganan banjir pada Senin (9/3/2026).

”Air berasal dari hulu melintasi batas administratif sehingga sinergi antara Pemprov Lampung, Pemkot Bandar Lampung, serta kabupaten tetangga, seperti Lampung Selatan dan Pesawaran, menjadi kunci utama,” kata Marindo.

​Menurut dia, rapat lintas sektor itu menyepakati sejumlah langkah strategis untuk mengatasi banjir. Salah satunya adalah penyusunan rencana induk banjir terintegrasi. Dokumen ini akan menjadi acuan utama agar penanganan dilakukan menyeluruh dari hulu ke hilir.

Selain itu, pemerintah juga akan membangun kolam retensi atau embung di daerah hulu untuk menahan laju air sebelum memasuki wilayah padat penduduk.

Normalisasi, peninggian tanggul, dan pengerukan sedimentasi, serta memperkuat dinding sungai juga akan dilakukan. Pemerintah juga mengatasi penyempitan sungai akibat bangunan di bantaran sungai serta menambah ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan.

​Di sisi lain, Marindo juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat. “Faktor sampah yang menyumbat drainase masih menjadi kendala besar. Infrastruktur secanggih apa pun tidak akan maksimal jika budaya membuang sampah ke sungai belum berubah,” tambahnya.

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menyampaikan, telah bergerak melakukan penanganan darurat, mulai dari perbaikan talud, pengerukan sungai, dan pendataan warga terdampak untuk penyaluran bantuan.

Namun, Eva menyebut pihaknya membutuhkan dukungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung. Hal itu demi mewujudkan beberapa langkah teknis, seperti peninggian tanggul dan normalisasi sungai.

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Roy Panagom Pardede berjanji bakal berkolaborasi. Dia mengatakan, pihaknya akan fokus pada normalisasi kapasitas sungai. dan peninggian tanggul di titik-titik kritis yang elevasinya sudah tidak memadai.

Banjir di Lampung seharusnya bisa dicegah sebelum memakan korban di jiwa. Mitigasi harus dilakukan sejak dini agar tidak menyesal di kemudian hari.

Baca JugaBandar Lampung dan Lampung Selatan Kebanjiran, Tiga Orang Hanyut

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mahasiswa RI Cerita Proses Belajar di Iran Terputus Imbas Perang
• 1 jam laludetik.com
thumb
Jawab Isu Lonjakan Penghasilan, Nadiem: Salah Baca SPT
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
OJK Perketat Pengawasan Dana Hasil IPO, Ditempatkan di Satu Rekening Khusus
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Wakapolri Dorong Kebijakan Kepolisian Berbasis Data
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Eks Mendikbudristek Nadiem Bakal Jadi Saksi di Sidang Kasus Chromebook
• 19 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.