FAJAR, JAKARTA – Hakim Danish mengusung misi bangkit pada seri kedua Moto3 2026 di Brasil. Pembalap Malaysia tersebut kecewa setelah dikangkangi pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama.
Meski sempat menjadi wildcard musim lalu, Danish gagal meraih poin di GP Thailand. Kini ia mengusung misi balas dendam. Targetnya membidik podium.
Persaingan sesama pembalap Asia Tenggara di kasta Moto3 mulai memanas. Hakim Danish, menegaskan tekadnya untuk bangkit setelah performanya tertutup oleh debut gemilang Veda Ega Pratama, pada seri pembuka di Thailand.
Tampil di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Danish yang membela tim MSi Racing harus menelan pil pahit. Alih-alih kompetitif, pembalap berusia 18 tahun itu justru pulang tanpa membawa poin sama sekali.
Perbandingan Kontras Dua Debutan Asia
Nasib Hakim Danish berbanding terbalik dengan Veda Ega Pratama. Meski keduanya berstatus sebagai rookie musim ini, hasil di lintasan menunjukkan jurang perbedaan yang signifikan.
Veda memulai balapan dari posisi start 5 dan finis ke-5. Kala itu Veda mendulang 11 poin.
Sedangkan Hakim yang memulai balapan dari posisi ke-15, justru finis di uturan ke-18. Tanpa poin.
Veda Ega bahkan sempat menunjukkan tajinya dengan merangsek ke posisi ketiga dan ikut dalam perebutan podium sebelum akhirnya mengunci posisi kelima.
Hasil ini menjadi tamparan keras bagi Danish, mengingat ia sudah lebih dulu mencicipi atmosfer Moto3 melalui jalur wildcard pada musim lalu.
Evaluasi dan Target di Moto3 Brasil
Meski terpuruk di seri perdana, Danish menolak untuk menyerah. Ia membidik hasil maksimal pada seri kedua yang akan digelar di Brasil mendatang.
Target podium tetap menjadi harga mati bagi pembalap bernomor motor 13 ini. “Itu bukan hal yang mustahil. Saya akan bekerja keras untuk mencapainya, lagipula itu selalu menjadi tujuan saya. Saya ingin meraihnya secepat mungkin,” ujar Danish sebagaimana dikutip dari laman NST.
Perbaikan Komunikasi dan Strategi Kualifikasi
Danish menyadari ada beberapa aspek teknis dan non-teknis yang harus segera dibenahi agar bisa tampil kompetitif di barisan depan.
Danish merasa perlu meningkatkan dialog dengan tim mekanik agar mendapatkan setelan (setup) motor yang sesuai dengan gaya balapnya. Pasalnya, memulai balapan dari posisi tengah sangat menyulitkan persaingan.
Ia bertekad meraih posisi start yang lebih strategis pada seri-seri berikutnya. “Komunikasi yang lebih baik akan memungkinkan tim mengatur motor dengan cara yang lebih pas untuk saya. Saya juga harus lolos kualifikasi dengan lebih baik agar berpeluang bersaing dengan pembalap terdepan,” pungkasnya. (*)





