Jakarta (ANTARA) - Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru keong darat endemik Sumatera Selatan yang memiliki nama ilmiah Chamalycaeus dayangmerindu.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Ayu Savitri Nurinsiyah mengatakan spesies Chamalycaeus dayangmerindu hingga saat ini hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan.
"Kondisi tersebut menjadikannya rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk alih fungsi lahan dan degradasi habitat," ujar Ayu.
Ayu menilai dokumentasi dan publikasi spesies baru merupakan langkah awal yang penting dalam upaya konservasi. Proses menemukan, mendeskripsikan, dan mempublikasikan spesies baru bukan perjalanan yang singkat.
Ia mengungkapkan suatu spesies dapat diakui sebagai spesies baru apabila telah melalui beragam tahapan ilmiah, mulai dari telaah morfologi, anatomi, atau genetika, komparasi dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, proses penelaahan oleh para ahli (peer review) dunia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.
"Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional," katanya.
Dia mengatakan, meski panjang dan penuh tantangan, namun setiap proses dalam perjalanan tersebut akan bermakna dan bermanfaat.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Terindeks Global Bereputasi Tinggi (Q1) ZooKeys 1272: 1–31 (2026), dengan judul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatera, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.
Pengungkapan spesies baru ini juga merupakan hasil kolaborasi dengan beberapa pihak, yaitu Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Széchenyi István University, Hungaria.
Melalui temuan ini, tim peneliti BRIN berharap dapat terus mendorong eksplorasi dan kajian biodiversitas, khususnya kelompok moluska darat, sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Ayu Savitri Nurinsiyah mengatakan spesies Chamalycaeus dayangmerindu hingga saat ini hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan.
"Kondisi tersebut menjadikannya rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk alih fungsi lahan dan degradasi habitat," ujar Ayu.
Ayu menilai dokumentasi dan publikasi spesies baru merupakan langkah awal yang penting dalam upaya konservasi. Proses menemukan, mendeskripsikan, dan mempublikasikan spesies baru bukan perjalanan yang singkat.
Ia mengungkapkan suatu spesies dapat diakui sebagai spesies baru apabila telah melalui beragam tahapan ilmiah, mulai dari telaah morfologi, anatomi, atau genetika, komparasi dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, proses penelaahan oleh para ahli (peer review) dunia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.
"Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional," katanya.
Dia mengatakan, meski panjang dan penuh tantangan, namun setiap proses dalam perjalanan tersebut akan bermakna dan bermanfaat.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Terindeks Global Bereputasi Tinggi (Q1) ZooKeys 1272: 1–31 (2026), dengan judul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatera, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.
Pengungkapan spesies baru ini juga merupakan hasil kolaborasi dengan beberapa pihak, yaitu Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Széchenyi István University, Hungaria.
Melalui temuan ini, tim peneliti BRIN berharap dapat terus mendorong eksplorasi dan kajian biodiversitas, khususnya kelompok moluska darat, sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.




