TOBA Rugi Rp2,7 T di 2025, Intip Analisis Fundamental TBS Energi Utama

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) mencatatkan rugi bersih sebesar rugi bersih sebesar US$162,26 juta atau setara Rp2,7 triliun pada tahun buku 2025. Namun, analis menyoroti fundamental perusahaan yang tengah melakukan pengembangan bisnis hijau tersebut.

Berdasarkan Laporan Keuangan 2025, TOBA membukukan pendapatan sebesar US$380,22 juta atau setara Rp6,35 triliun. Pendapatan ini turun 14,7% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$445,6 juta.

Analis Philip Sekuritas, Edo Ardiansyah menilai kerugian yang tercatat pada 2025 tidak mencerminkan pelemahan fundamental operasional perusahaan.

“Rugi yang muncul lebih merupakan dampak akuntansi dari divestasi aset pembangkit. Dari sisi arus kas justru terlihat lebih kuat karena perusahaan memperoleh fleksibilitas keuangan untuk mendanai ekspansi bisnis berkelanjutan,” kata Edo dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Dia menjelaskan kerugian tersebut terutama dipengaruhi oleh pencatatan akuntansi yang bersifat non-kas dan tidak berulang (non-recurring) seiring langkah transformasi bisnis Perseroan menuju portofolio bisnis hijau.

Adapun, sebagian besar kerugian berasal dari dampak divestasi dua aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni PT Minahasa Cahaya Lestari dan PT Gorontalo Listrik Perdana.

Baca Juga

  • Siasat INDY hingga TOBA Pacu Roda EV saat Pemerintah Tarik Rem Insentif
  • TBS Energi Utama (TOBA) Bakal Buyback Saham Rp586,27 Miliar
  • TBS Energi Utama (TOBA) Bukukan Rugi Bersih Rp2,7 Triliun pada 2025

Menurutnya, dalam standar akuntansi proyek Independent Power Producer (IPP) dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT), nilai aset yang tercatat sebelumnya juga mencerminkan pendapatan masa depan yang belum direalisasikan. Ketika aset tersebut dilepas, bagian pendapatan yang belum jatuh tempo harus dihapus dari pembukuan sehingga tercatat sebagai rugi non-kas dalam laporan laba rugi.

Di tengah pencatatan rugi akuntansi tersebut, fundamental arus kas Perseroan tetap menunjukkan ketahanan. TBS mencatatkan adjusted EBITDA sebesar US$47,2 juta pada 2025, sementara posisi kas meningkat 15% menjadi US$102,3 juta. Kondisi ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga likuiditas di tengah proses transformasi portofolio bisnis.

Dia mengatakan langkah strategis TBS untuk melepas aset pembangkit batu bara dan mempercepat pengembangan bisnis hijau merupakan bagian dari restrukturisasi portofolio jangka panjang. Dengan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi, ketergantungan terhadap siklus harga batu bara juga akan berkurang secara bertahap.

Transformasi tersebut juga mulai tecermin dalam komposisi bisnis Perseroan. Segmen pengelolaan limbah kini menjadi salah satu kontributor utama pendapatan dengan nilai mencapai US$155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan konsolidasian perusahaan.

“Jika melihat perkembangan saat ini, bisnis waste management sudah menjadi tulang punggung baru perusahaan. Sementara itu kendaraan listrik dan energi terbarukan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Selain memperkuat bisnis pengelolaan limbah melalui platform regional CORA Environment, TBS juga terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum yang hingga akhir 2025 telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan sekitar 364 stasiun penukaran baterai.

Di sektor energi terbarukan, proyek pembangkit mini hidro berkapasitas 6 MW di Lampung telah mulai beroperasi sejak awal 2025. Sementara proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam dengan kapasitas 46 MWp masih berada dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Transjabodetabek Blok M-Soetta Diresmikan 12 Maret, Tarif Rp3.500 Berlaku Hanya sampai Lebaran
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Baleg DPR Targetkan Draf RUU Hak Cipta Rampung April 2026
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Antisipasi Pemudik Tumbang, 3.000 Tenaga Medis Disiagakan di Cirebon
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Istana Jelaskan Alasan TNI Siaga 1, Singgung Libur Lebaran
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Peringati Nuzulul Quran, PDIP Jatim Santuni Ratusan Anak Yatim
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.