Firmansyah (61 tahun) seorang eks narapidana teroris (napiter) kembali berkumpul bersama teman-temannya sesama eks napiter. Mereka tidak kembali ke ideologi yang pernah dianut, tapi berkumpul untuk bakti sosial. Bertemu para pemulung di wilayah Banguntapan, Kabupaten Bantul, Selasa (10/3).
Para eks napiter ini datang dengan membawa bingkisan berupa sembako dan makanan berbuka puasa. Satu per satu pintu diketuk untuk menyerahkan bantuan tersebut.
Selain memberikan bantuan kepada sesama, pertemuan ini jadi penguatan para eks napiter untuk tetap teguh dengan ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Firmansyah mengaku dia pernah masuk salah satu organisasi teroris setelah mengikuti sejumlah kajian. Pada Desember 2019 dia ditangkap Densus 88 dan divonis tiga tahun penjara.
"Saya keluar tahun 2022 akhir," kata Firmansyah.
Firmansyah yang tinggal di Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul mengakui dirinya salah memilih guru mengaji sehingga terpapar radikalisme.
"Ngajinya ada yang keliru waktu itu. Bahkan ustaz-nya menyadari seperti itu, di Berbah. Beliau sama seperti kami sekarang NKRI," jelasnya.
Proses kembali ke NKRI diakui Firmansyah membutuhkan waktu. Ketika di dalam tahanan ada pergolakan batin yang dia rasakan.
"Alhamdulillah dengan izin Allah kami ditemukan dengan banyak ustaz di sana (tahanan)," katanya.
Dalam pertemuan itu, sehari-hari Firmansyah berbagi kisah dengan para ustaz di sana. Lama kelamaan dia menyadari apa yang jadi kekeliruannya.
"Di sanalah kami ketemu. Ternyata seperti ini. Yang kami pahami dulu terlalu keras. Dan ini juga istilahnya mungkin nggak bisa diterima teman-teman kami yang masih merah, yang masih keras," katanya.
"Ya pergolakan batin (di dalam). Alhamdulillah banyak ketemu ustaz kami terus terbuka pikirannya," kata pria yang kini bekerja di toko bangunan.
Bertemu dengan berbagai lapisan masyarakat, menurut Firmansyah juga membuka perspektif para eks napiter akan keragaman di Indonesia.
Perancang Serangan Mako BrimobEndi Maryadi (40 tahun) merupakan salah satu perancang serangan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat 2018 silam. Ratusan napiter menyerang anggota Brimob. Akibatnya lima polisi dan satu tahanan teroris tewas.
"Dulu kasusnya sendiri perencanaan kerusuhan Mako Brimob. Saya vonisnya 3,5 tahun penjara," kata Endi.
Endi mengatakan dirinya mengikuti program deradikalisasi yang diselenggarakan Densus 88.
"Pembinaan baik verbal maupun literasi," katanya.
Endi mengatakan saat terpapar ideologi teroris, literasinya masih sangat kurang. Namun dia sudah menyimpulkan.
"Mungkin dulu kurang literasi sebenarnya. Karena di program deradikalisasi kita diberi buku-buku jadi memperkaya literasi. Akhirnya tahu bahwasanya yang kemarin keliru," bebernya.
Dia mengatakan eks napiter ini memiliki paguyuban. Mereka saling menjaga satu sama lain untuk tetap setia pada NKRI.
"Yang di Bantul namanya Paguyuban Asri. Di Yogya ada Yayasan Bumi Damai sama Yayasan Silaturahmi Cinta Negeri," katanya.
Di Yayasan itu ada pembinaan dakwah ada pula pemberdayaan ekonomi. Termasuk dirinya yang saat ini bekerja sebagai pedagang juga bisa menambah skill.
Kata Densus 88Ketua Tim Unit Identifikasi Sosialisasi Satgaswil DIY Densus 88 Anti Teror, Ipda Artarina Prilandari, mengatakan di wilayah DIY ada 50-an eks napiter.
Dia mengatakan Satgaswil berkolaborasi bersinergi dengan stakeholder lain seperti pemerintahan hingga organisasi masyarakat untuk membina eks napiter. Tujuannya agar mereka tetap di NKRI.
"Untuk membantu proses reintegrasi sosial. Pembinaan macam-macam ada pembinaan terkait agama, ada pemberdayaan ekonomi, ada pembinaan kaya seperti ini itu psikososial. Kita melibatkan eks napiter untuk membuka wawasan mereka," kata Arta.
Pembinaan seperti ini dilakukan tanpa batas waktu. Menurutnya karena hal ini masalah ideologi yang bisa saja timbul kembali maka perlu sinergitas semua lini.
"Pembinaan sampai mereka tidak ada. Berkesinambungan," jelasnya.
Peningkatan skill juga dilakukan misal dengan melibatkan berbagai instansi termasuk perusahaan. Tujuannya agar eks napiter mandiri.
"Kalau sudah mandiri otomatis mereka untuk berpikir-pikir yang tidak-tidak sudah tidak ada," katanya.
Di Yogya menurut Arta masih ada eks napiter yang memiliki ideologi kategori merah atau keras. "Tapi kita jalin komunikasi, insyaallah kami selalu silaturahmi ke rumah-rumah yang bersangkutan," pungkasnya.





