Sebanyak 22 WNI yang sebelumnya berada di Iran telah kembali ke Indonesia pada Selasa (10/3). Salah satu WNI, Zulfan (69), menceritakan pengalamannya dievakuasi dari negara yang diserang AS dan Israel tersebut.
Zulfan mengatakan proses dari Iran bermula dengan diberikannya surat oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran untuk mengisi formulir pada Selasa (3/3) dengan waktu dua hari.
"Kami pertama dua hari sebelum berangkat menerima surat undangan dari KBRI Teheran. Barang siapa yang siap untuk dievakuasi mengisi form," ucap Zulfan selepas tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/3).
Zulfan mengungkapkan banyak WNI memilih untuk tetap di Iran sehingga tidak mengisi formulir. Oleh karena itu, hanya 32 WNI yang kembali ke Indonesia pada gelombang kepulangan pertama.
"Jadi pada tahap pertama sekali, 32 orang mengisi, langsung diberangkatkan," ucap Zulfan.
Zulfan menceritakan para WNI kemudian berangkat dari sebuah hotel di Teheran yang telah disediakan KBRI pada Jumat (6/3) pagi. Keberangkatan itu bertujuan menuju perbatasan antara Iran dengan Azerbaijan menggunakan jalur darat.
"Nah subuh (pukul 05.30 waktu setempat) kami baru berangkat sekitar 9 jam sampai ke perbatasan Iran dengan Azerbaijan," tutur Zulfan.
Mengenai perjalanan darat yang ditempuh para WNI tersebut, Zulfan mengatakan jalanan di sana tidak macet sama sekali. Meski begitu, ia menyebut jalanan Iran sempat macet ketika perang terjadi dalam 12 hari pertama.
"Kebetulan di jalan tidak macet sama sekali ya. Ketika waktu perang 12 hari, itu macet panjang. Tapi karena kita sudah mengambil keputusan cepat sehingga di jalan tidak ada kemacetan. Lancar sekali kita menuju ke perbatasan," ujar Zulfan.
Zulfan mengatakan para WNI sempat menunggu selama sembilan jam di perbatasan tersebut sebelum akhirnya menuju sebuah hotel di Baku, Azerbaijan.
"Yang lama itu 5 jam kami tunggu di imigrasi perbatasan. Tapi di Baku hanya satu jam kami langsung menuju kota dan menginap di hotel yang disediakan, Hotel Hilton Baku, bintang 4, bukan hotel main-main," ungkap Zulfan.
Dengan disediakannya hotel tersebut, Zulfan merasakan kepuasan tersendiri atas pelayanan yang diterima oleh para WNI.
"Saya kira cukuplah memuaskan bagi semua kawan-kawan yang dievakuasi," kata Zulfan.
Atas kelancaran yang diterima selama kepulangan para WNI ini, mereka menghaturkan terima kasih kepada tiga KBRI yang terlibat dalam proses tersebut.
"Jadi kami dari rombongan yang dievakuasi, pertama pasti mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah Indonesia, kepada Kemlu terutama, dan kepada KBRI di tiga negara, yaitu Teheran, kemudian Azerbaijan, dan Turki, yang mengurusi kami dari awal sampai akhir dengan baik. Tidak ada cacat," ucap Zulfan.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kepulangan WNI di Iran ini bersifat sukarela, bergantung pada keputusan masing-masing WNI. Sebab, kata Sugiono, sebenarnya kondisi di Iran relatif terkontrol.
"Sejauh ini rencana repatriasi ini merupakan sesuatu yang sifatnya sukarela. Karena berbagai faktor, di antaranya banyak WNI kita yang statusnya bekerja di sana," tutur Sugiono.
Sugiono menyebutkan, berdasarkan asesmen yang dilakukan di Iran, kondisi di sana relatif masih terkontrol.
"Kemudian dari asesmen yang kami terus lakukan bersama perwakilan-perwakilan kita di negara-negara tersebut, umumnya mengatakan bahwa sebenarnya situasinya itu relatif under control," sambungnya.





