JAKARTA, KOMPAS.TV - Perayaan Idulfitri identik dengan hidangan lezat seperti opor, rendang, kue kering, hingga aneka makanan bersantan. Namun di balik kenikmatan tersebut, ada risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap lonjakan kadar gula darah dan kolesterol setelah Lebaran.
Menurut dia, perubahan pola makan yang terjadi selama hari raya menjadi salah satu penyebab utama gangguan metabolik.
“Setelah Lebaran, asupan makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat biasanya meningkat. Jika tidak dikontrol, kadar gula darah dan kolesterol bisa ikut naik,” kata dr. Waluyo dalam acara Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks during Eid Festivities di Jakarta, Selasa (10/3/2026), dikutip Antara.
Dia menjelaskan, lonjakan asupan kalori dalam waktu singkat bisa berdampak besar bagi tubuh, terutama bagi orang dengan faktor risiko tertentu.
Baca Juga: Berapa Batas Konsumsi Aman Makan Daging Kurban untuk Penderita Hipertensi, Stroke dan Kolesterol?
Kelompok yang paling rentan antara lain:
- Orang dengan obesitas
- Penderita diabetes
- Mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi
Menurutnya, tubuh yang sebelumnya beradaptasi dengan pola makan saat puasa dapat mengalami perubahan metabolisme ketika tiba-tiba menerima asupan makanan dalam jumlah besar.
Meski demikian, dr. Waluyo menegaskan masyarakat tidak perlu sepenuhnya menghindari makanan khas Lebaran. Yang terpenting adalah mengatur porsi makan secara bijak.
Ia mengingatkan konsep pembagian lambung menjadi tiga bagian agar sistem pencernaan tetap bekerja optimal, yaitu:
- Sepertiga untuk makanan
- Sepertiga untuk cairan
- Sepertiga untuk udara
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Antara
- ramadan 2026
- lebaran 2026
- kolesterol
- gula darah
- gula darah naik
- kolesterol naik





