Pakar nilai harga minyak dunia masih berpotensi naik ke 130 dolar AS

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai harga minyak dunia masih berpotensi naik hingga ke level 130 dolar AS per barel apabila perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran kian memanas.

“Ini (penurunan harga minyak) disebabkan oleh AS mengeluarkan pasokan minyak. Lumayan besar sehingga harganya turun, tetapi ini sementara,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Diberitakan oleh Sputnik (9/3), harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.

Kemudian, pada Selasa, harga minyak dunia terjun ke level 80–85 dolar AS per barel setelah para menteri energi dari kelompok G7 membahas kemungkinan melepas cadangan minyak secara terkoordinasi di tengah lonjakan harga minyak, sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama.

Turunnya harga minyak juga seiring dengan potensi berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan operasi militer terhadap Iran sudah “very complete”.

Meskipun demikian, Iran menyatakan tidak akan menyetujui gencatan senjata sampai pihak yang menyerang diberi pelajaran agar mereka tidak lagi berpikir untuk mengulangi tindakan militer terhadap Teheran, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Selasa.

Ketegangan inilah yang diyakini oleh Yayan dapat menyebabkan harga minyak dunia kembali naik, bahkan bisa menyentuh 130 dolar AS per barel.

“Jadi, penurunan harga minyak hanya untuk sementara saja. Sekarang justru eskalasinya lebih tinggi, karena Trump akan mengirim pasukan darat (ground troops) ke Iran,” ucap Yayan.

Apabila Amerika Serikat mengirim pasukan darat ke Iran, Yayan menyampaikan kerusakan infrastruktur dan jaringan rantai pasok akan terhenti tanpa waktu yang tidak bisa diperkirakan.

Pengerahan pasukan darat, menurut Yayan, akan memunculkan dampak yang lebih besar dan Amerika Serikat akan berambisi untuk menduduki Iran lebih dari satu tahun.

“Seperti kasus Irak, Afghanistan, karena AS tidak ingin rugi. Kalau hanya 1–2 tahun, mereka nggak balik modal,” ucap Yayan.

Berdasarkan analisis Yayan, Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk menggeser pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat, kurang lebih sebesar 20 persen. Tujuan dari pergeseran itu adalah menekan harga minyak pada pertengahan atau akhir tahun 2026.

Ambisi itu juga terlihat ketika Amerika Serikat menyerang Venezuela pada awal 2026.

Harga minyak dunia yang lebih rendah, tutur Yayan, dapat menyebabkan biaya rantai pasok AS menjadi lebih murah dan lebih efisien.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjemput Malam Lailatul Qadar di Masjid Istiqlal
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ini Alasan 2 Korban Ledakan Petasan di Nganjuk Tak Ditanggung BPJS
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Mana yang Didahulukan Bayar Utang atau Zakat Fitrah? Simak Penjelasan Kemenag
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Pilih Berangkat Lebih Awal, Pemudik Roda 2 Mulai Padati Pelabuhan Merak
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Militer Israel Larang Media Sebarkan Gambar-Video Dampak Serangan Rudal Iran
• 4 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.