Liputan6.com, Jakarta - Gunungan sampah di Tempat Pengelolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tak sekadar simbol persoalan pengelolaan sampah Jakarta dan sekitarnya. Tempat itu juga menyisakan dilema bagi warga yang menggantungkan hidup di sana.
Advertisement
Ancaman longsor kerap menghantui seiring tumpukan sampah yang tak pernah berkurang. Tetapi di sisi lain, ada cerita yang mencari makan di antara limbah kota agar dapur tetap.
"Ini (TPST) sebenarnya udah gak layak, overload, bisa dilihat itu tumpukan udah keras," ujar Wijiyono (50), salah satu warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan TPST Bantargebang.
Liputan6.com coba melihat kondisi terkini di TPST Bandargebang longsor akhir pekan lalu. Longsor hari itu menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Tumpukan sampah di lokasi memang tampak mengeras dan memadat. Berbagai jenis limbah plastik, pasir, hingga material lainnya bercampur menjadi satu, membentuk lapisan yang semakin sulit terurai. Kondisi ini menurut warga sudah berlangsung cukup lama dan semakin mengkhawatirkan seiring bertambahnya kiriman sampah setiap hari.
Di balik kondisi tersebut, warga sebenarnya juga berusaha mengurangi tumpukan sampah dengan memilah limbah yang masih memiliki nilai ekonomi. Aktivitas pemilahan plastik dan barang bekas lain menjadi rutinitas yang dilakukan setiap hari, meskipun jumlah sampah yang datang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan tenaga manusia untuk mengelolanya.




