Wacana penghapusan rute transit di Online Travel Agent (OTA) dinilai berpotensi merugikan penumpang, serta melemahkan konektivitas di Indonesia. Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Nunung Rusmiati, mengatakan hal tersebut dapat menghambat perjalanan penumpang, khususnya di musim Mudik Lebaran nanti.
"Terlebih saat peak season seperti momentum mudik Lebaran ini, yang membutuhkan lebih banyak konektivitas untuk menjangkau setiap daerah melalui jalur udara," kata Nunung, seperti dikutip dari Antara.
Nunung menganggap kebijakan tersebut berpotensi mengurangi transparansi pilihan perjalanan. Ia juga menilai selama ini opsi penerbangan transit justru menjadi solusi penting bagi konektivitas di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan.
Dengan ribuan pulau dan banyak kota yang belum memiliki penerbangan langsung, transit kerap menjadi satu-satunya cara menghubungkan perjalanan antardaerah.
"Dari perspektif kami di ASITA, opsi penerbangan transit justru selama ini menjadi salah satu solusi konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia," ujar Nunung.
Pilihan Perjalanan Jadi TerbatasLebih lanjut, ia mengatakan jika opsi tersebut dihapus dari OTA, masyarakat justru akan kehilangan gambaran lengkap mengenai pilihan perjalanan yang tersedia, mengingat kehadiran OTA selama ini juga telah membantu konsumen merancang perjalanan sesuai kebutuhan, baik dari sisi waktu maupun anggaran.
"Padahal OTA hadir untuk membantu konsumen merancang perjalanan yang paling sesuai dengan kebutuhan waktu, dan anggaran mereka," tutur Nunung.
Nunung mengingatkan kondisi geografis Indonesia membuat konektivitas udara sangat kompleks. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung, sehingga transit merupakan bagian dari sistem transportasi yang sudah berjalan.
"Kita harus ingat, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan ratusan bandara. Tidak semua kota terhubung dengan penerbangan langsung. Dalam konteks itu, transit bukan masalah, justru bagian dari solusi konektivitas nasional," katanya.
Di sisi lain, ASITA melihat kebijakan tersebut akan berdampak pada cara masyarakat mencari tiket pesawat. Sebab, selama ini sebagian besar konsumen terbiasa menggunakan OTA untuk menemukan kombinasi penerbangan dengan harga tertentu.
Lebih jauh, Nunung menilai rencana penghapusan opsi transit di OTA tidak akan menyelesaikan persoalan utama industri penerbangan domestik, khususnya terkait harga tiket.
Penyebab Mahalnya Harga Tiket PesawatMenurut Nunung, mahalnya tiket pesawat di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural yang jauh lebih kompleks. Beberapa di antaranya adalah biaya avtur, biaya operasional maskapai, keterbatasan armada, pajak, hingga berbagai komponen biaya bandara.
Selain itu, ketersediaan kursi penerbangan yang belum seimbang dengan permintaan juga ikut mempengaruhi harga. Oleh karena itu, menutup opsi transit di OTA dinilai tidak akan berdampak langsung terhadap biaya-biaya tersebut.
"Menutup opsi transit di OTA tidak akan menurunkan biaya tersebut. Yang terjadi justru hanya menghilangkan tampilan pilihan rute di platform digital, sementara rute transit itu sendiri tetap ada," tutur Nunung.
Nunung menegaskan kebijakan tersebut berisiko hanya membatasi informasi yang diterima konsumen, tanpa benar-benar mengubah struktur biaya dalam industri penerbangan.
"Artinya, masalah harga tidak hilang, hanya informasinya saja yang dibatasi," pungkasnya.





