Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya menjaga stabilitas keamanan nasional agar Indonesia tidak terpecah belah seperti pengalaman sejarah masa lalu.
Hal itu disampaikan Sigit dalam acara buka puasa bersama TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/3).
“Tentunya saya selalu mengingatkan pentingnya soliditas TNI dan Polri untuk mengawal berbagai macam program. Menjaga agar stabilitas pertahanan, stabilitas keamanan ini betul-betul bisa kita jaga di bumi Indonesia,” jelas Sigit.
Menurut Sigit, pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan perpecahan pernah dimanfaatkan untuk melemahkan bangsa.
“Kita ingat 350 tahun kita sempat dijajah karena kita dipecah belah oleh politik devide et impera,” tuturnya.
Ia mengatakan, keberagaman suku, budaya, dan wilayah yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan besar jika dikelola dengan persatuan, namun bisa menjadi kelemahan jika dimanfaatkan untuk memecah belah.
“Pilihan kita, kita bersatu dalam kebinekaan atau kita memilih kemudian berhasil dihasut dan dipecah belah dan kita mengalami kemunduran, dan itu tugas kita bersama untuk menjaga NKRI kita yang tercinta,” ungkap Sigit.
Menurutnya, stabilitas keamanan menjadi modal dasar bagi negara untuk menjalankan pembangunan dan menjaga kesejahteraan masyarakat.
“Dan ini menjadi modal dasar, modal utama bagi negara, bagi bangsa, bagi masyarakat untuk kemudian bisa membangun, karena syarat utama pembangunan adalah stabilitas keamanan stabilitas Kamtibmas,” kata Sigit.
Sigit menegaskan tugas menjaga keamanan dan pertahanan merupakan tanggung jawab mulia yang harus dijalankan dengan penuh komitmen.
“Tugas menjaga keamanan tugas menjaga pertahanan adalah tugas mulia dan ini harus selalu kita tanamkan dalam diri kita,” kata Sigit.
“Namun kalau kita semua bersatu, TNI, Polri, masyarakat, Kiai dan seluruh elemen bangsa bersatu. Kita yakin kita bisa melalui masa-masa yang ada,” lanjutnya.
Sigit mencontohkan pengalaman saat pandemi Covid-19, ketika Indonesia sempat mengalami kontraksi ekonomi namun mampu bangkit kembali berkat kekompakan seluruh elemen bangsa.
“Kita pernah menghadapi situasi sama kita pernah menghadapi Covid, negara kita pernah kontraksi pertumbuhan ekonomi. Kita saat itu tumbuh minus sampai 2%, namun karena kita kompak saat itu kita bisa segera bangkit,” kata Sigit.
“Ekonomi kita segera bangkit saat itu bahkan kita sempat berada di negara nomor satu ataupun nomor dua di antara negara-negara G20,” lanjutnya.
Sigit juga menyinggung langkah pemerintah dalam menghadapi dinamika global, termasuk diplomasi ekonomi yang dilakukan Presiden Prabowo.
Ia mengatakan pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, salah satunya melalui diplomasi perdagangan dengan Amerika Serikat.
“Beberapa waktu yang lalu Presiden Trump mengajukan perang tarif terhadap semua negara, dan Alhamdulillah berkat diplomasi yang dilaksanakan oleh Bapak Presiden pada saat itu, dari angka tarif kita 32% untuk impor ke Amerika bisa diturunkan menjadi 19%,” kata Sigit.
Menurutnya, kebijakan tersebut membuka peluang bagi industri nasional untuk tetap berkembang karena sejumlah komoditas Indonesia mendapat tarif impor nol persen di pasar Amerika Serikat.
“Bahkan kurang lebih ada 1.800 komoditas yang diberikan tarif impor 0%,” kata dia.





