Malam lailatul qadar yang jatuh pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan disebut sebagai malam istimewa karena kemuliaannya setara dengan seribu bulan. Tak heran jika banyak orang yang berusaha mengoptimalkan ibadahnya menjelang akhir Ramadan ini.
Di sisi lain, para perempuan yang sedang haid dan nifas sering kali jadi lebih gelisah, karena merasa tak bisa optimal beribadah di momen ini. Apakah Anda juga merasakannya?
Tenang, Moms. Sebab menurut ustaz yang juga Wakil Rektor III PTIQ Jakarta KH. DR. Ali Nurdin, MA, kita tetap bisa optimal ibadah meski sedang haid, lho!
Tips Mengoptimalkan Malam Lailatul Qadar saat Sedang Haid dan NifasIkhlas Menerima Ketentuan Allah Juga Ibadah
Menurut Ustaz Ali, perempuan yang haid sebenarnya sedang menjalankan aturan Allah. Ketika tidak melaksanakan salat atau puasa, juga bukan karena meninggalkan ibadah, melainkan karena mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.
“Ketika perempuan sedang haid, Allah memang mengatur agar mereka tidak perlu salat atau puasa. Maka jika kita menerimanya dengan ikhlas, itu juga bagian dari ibadah,” kata pria yang juga pengajar di lembaga pendidikan iWise Islamic Education ini.
Ia menekankan bahwa kunci utamanya adalah sikap hati. Ketika seorang perempuan menerima kondisi tersebut dengan lapang dan ikhlas, maka itu sudah bernilai ibadah di sisi Allah.
Ibadah Lewat Perbuatan Baik
Selain itu, ada banyak peluang ibadah lain yang tetap bisa dilakukan selama masa haid. Salah satunya adalah membantu orang lain yang sedang beribadah.
Misalnya dengan menyiapkan kebutuhan keluarga yang sedang i’tikaf, menyiapkan makanan untuk sahur atau berbuka, atau menemani orang-orang yang menjalankan ibadah malam. Hal-hal sederhana seperti itu juga bisa bernilai ibadah.
Bahkan, menurutnya, bisa jadi pahala dari membantu orang yang beribadah justru lebih besar dibandingkan mereka yang menjalankan ibadah ritual itu sendiri, lho!
“Kalau kita niatkan untuk mencari kebaikan, insyaallah pahalanya juga besar,” ujarnya.
Lailatul Qadar Tidak Hanya Diraih dengan RitualBanyak orang khawatir tidak mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar karena tidak bisa melakukan ibadah tertentu. Padahal, pahala besar tidak selalu harus diraih melalui ritual ibadah secara langsung.
Ia mencontohkan, seseorang yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya dengan niat yang baik pun bisa mendapatkan pahala besar, selama ia tetap menjalankan kewajiban ibadahnya.
Begitu juga dengan perempuan yang sedang haid. Mereka tetap dapat meraih kebaikan Ramadan melalui niat, keikhlasan, dan berbagai bentuk amal lainnya.
Tak Perlu Berkecil Hati
Karena itu, perempuan yang sedang haid tidak perlu merasa kecil hati selama Ramadan. Menjalani Ramadan dengan istiqamah sesuai kondisi masing-masing sudah menjadi bagian dari ibadah.
Bahkan, bisa saja seseorang mendapatkan lailatul qadar tanpa menyadarinya. Misalnya setelah menjalankan ibadah malam, kemudian beristirahat sejenak sebelum bangun sahur. Waktu tidur itu tetap termasuk dalam rangkaian malam yang penuh keberkahan.
Yang terpenting adalah menjalani Ramadan dengan niat yang baik dan konsisten berbuat kebaikan.
“Insyaallah kalau kita istiqamah menjalani Ramadan dengan segala kondisi kita, setiap tahun kita bisa saja mendapatkan lailatul qadar,” ujarnya.





