Jakarta: Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri) Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH menyarankan generasi muda melakukan pemeriksaan urine atau air kencing. Salah satunya untuk mendeteksi dini peradangan ginjal atau glomerulonefritis.
Pringgodigdo mengatakan radang ginjal menjadi penyakit yang sering terjadi pada usia muda. Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, biasanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan urine.
“Yang di muda-muda udah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena enggak pernah periksa urine. Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena enggak ada gejala,” tutur Pringgodigdo dikutip dari Antara, Kamis, 12 Maret 2026.
Pringgodigdo mengatakan bahwa terdapat sel darah merah (eritrosit) atau ada albumin di yang harusnya negatif. Salah satu tanda yang kerap diabaikan adalah urine yang sudah berbusa.
Baca Juga :
Kanker Ginjal Diprediksi Meningkat Dua Kali Lipat dalam 25 Tahun ke Depan“Kalau udah berbusa, berwarna, itu udah tinggi berarti tuh (kadar kebocorannya). Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah. Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya,” ungkap Pringgodigdo.
Dokter yang menamatkan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia itu menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan guna mencegah penyakit ginjal. “Kalau enggak ada gejala ya paling enggak setahun sekali gitu diperiksa,” imbuh Pringgodigdo.
Ilustrasi ginjal. Foto: Medicinenet.
Lebih lanjut, Pringgodigdo menambahkan pentingnya memperhatikan pola makan bagi generasi muda dalam mencegah penyakit ginjal. Ia mengatakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal adalah tingginya konsumsi makanan yang dapat memicu obesitas.
“Itu harus dihindari. Misalnya mengonsumsi yang manis-manis kan kalorinya tinggi. Nanti secara tidak langsung bisa melalui diabetes juga bisa,” sebut Pringgodigdo.
Konsumsi makanan instan yang tinggi garam dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi yang berlangsung lama, di mana bisa menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit ginjal.
Selain pola makan, gaya hidup sedentary atau kurang aktivitas fisik juga memicu risiko penyakit ginjal. “Sekarang ke mana-mana yang deket harus naik motor padahal kan bisa jalan kaki. Jalan itu kan membantu membakar kalori,” ujar Pringgodigdo.




