Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah tren penurunan suku bunga dan kondisi pasar modal Tanah Air yang tertekan, penjualan SBN Ritel di 2026 tampak menantang. Namun, PT Bareksa Portal Investasi sebagai salah satu mitra distribusi SBN Ritel menilai hal ini justru dapat menjadi peluang bagi pemerintah.
CEO sekaligus Co-founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra, menilai bahwa pasar SBN Tanah Air sebetulnya masih dapat diperdalam. Pasalnya, instrumen ini cenderung menawarkan return yang baik kepada masyarakat.
Dharma membandingkannya dengan instrumen investasi emas sebagai safe haven yang kendati secara umum mampu bergerak menguat, tapi bukan tanpa volatilitas yang cukup tajam. Sementara dibandingkan deposito perbankan, SBN Ritel dinilai memiliki daya tawar yang lebih tinggi.
”Nah justru karena momentumnya seperti ini, bahwa nasabah ritel yang sangat resilient ini bisa menjadi bantalan yang strategis buat our national market, supaya pasar kita stabil dan bisa rebound lagi,” katanya saat ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (11/3/2026) malam.
Dia berharap, pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian insentif lebih bagi investor SBN Ritel. Terlebih dalam kondisi pasar modal Tanah Air yang tengah tertekan, pendalaman pasar SBN Ritel di tengah kondisi ini memiliki peluang positif untuk dilakukan.
”Menurut kami, ini momentum yang bagus untuk pemerintah justru, di tengah situasi yang agak ada tekanan, kita dorong supaya market SBN bisa meluas karena jelas-jelas ada segmen investor yang sebetulnya sangat potensial untuk masuk ke pasar SBN,” tegasnya.
Baca Juga
- SBN Ritel 2026, Menarik Balik Minat Investor Cilik
- ORI029 Sepi Peminat, Ini Strategi Kemenkeu untuk SBN Ritel Berikutnya
- Animo SBN Ritel Lesu, ORI029 Sepi Peminat atau Pasar Lagi 'Tiarap'?
Di satu sisi, COO Bareksa Ni Putu Kurniasari, menerangkan bahwa pemerintah seharusnya mulai melakukan eksplorasi terhadap insentif yang dapat diberikan kepada investor SBN Ritel. Selain pajak, dia setuju bahwa pemberian kupon yang kompetitif dapat dipertimbangkan.
Meskipun dalam fakta kondisi suku bunga yang cenderung rendah sehingga mendorong yield acuan bergerak menguat dibandingkan tahun lalu, tetapi opsi tersebut dapat dipertimbangkan untuk memberikan daya tarik lebih bagi produk SBN Ritel di tahun ini.
”Kalau SBN Ritel kan dijaga hanya boleh penduduk Indonesia yang beli. Jadi, kalau [imbal hasil] dinaikkan sedikit, kan sebetulnya impact-nya ke masyarakat juga. Di tengah tekanan ekonomi saat ini, itu bisa membantu,” katanya pada kesempatan yang sama.
Selain itu, secara teknis, bentuk stimulus yang bisa diberikan pemerintah kepada investor dapat berupa pengurangan biaya transfer dalam pembelian produk tersebut. Hal itu dinilai mampu menggenjot kondisi mikroekonomi.
”Itu juga yang menghambat [biaya transfer], kalau nanti diperdagangkan lagi di pasar sekunder, beban-beban tersebut yang mungkin dapat diturunkan,” katanya.
Adapun penjualan SBN Ritel perdana 2026, ORI029 sepi peminat. Produk ORI yang biasanya gencar diburu investor ritel, berbeda arah pada tahun ini.
ORI029 hanya ludes terjual 57,76% dari target Rp25 triliun dana terhimpun oleh DJPPR. Kendati imbal hasil yang ditawarkan cenderung lebih besar ketimbang SBN Ritel pamungkas 2025, tetapi hal itu nyatanya belum mampu menarik minat investor untuk berinvestasi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto saat itu menerangkan bahwa sedikitnya terdapat dua faktor yang menyebabkan penjualan ORI029 jauh panggang dari api. Salah satunya adalah tidak adanya instrumen SBN Ritel yang jatuh tempo pada periode penerbitan ORI029.
Dengan tidak adanya instrumen jatuh tempo, Suminto menerangkan bahwa realisasi penjualan ORI029 mencapai Rp14,4 triliun merupakan fresh money.
”Hasil penjualan ORI029 dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, tidak adanya SBN Ritel yang jatuh tempo selama masa penawaran menyebabkan tidak terjadi reinvestment oleh existing investor,” katanya kepada Bisnis, Jumat (20/2/2026) malam.
Selain itu, Suminto menilai bahwa minat pemesanan ORI029 sejalan dengan kebutuhan dana untuk mempersiapkan sejumlah hari raya besar di Tanah Air. Faktor itu turut membuat produk ini tidak menjadi pilihan utama investor lantaran kebutuhan likuiditas yang tinggi jelang hari raya.
”Kedua, faktor musiman turut berpengaruh karena periode penawaran bertepatan dengan long weekend serta mendekati Ramadan dan Imlek, yang meningkatkan likuiditas rumah tangga,” katanya.




