G7 Pertimbangkan Pengawalan Kapal di Tengah Blokade Selat Hormuz

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

NEGARA-negara anggota G7 bergerak cepat merespons eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian mengancam stabilitas ekonomi global. Dalam pertemuan via konferensi video pada Rabu waktu setempat, perwakilan dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa membahas langkah darurat untuk mengamankan jalur perdagangan laut.

Fokus utama pertemuan ini adalah mencari solusi atas gangguan rantai pasok yang diakibatkan oleh keterlibatan Iran dalam konflik regional. Berdasarkan rilis resmi pertemuan tersebut, G7 tengah mengeksplorasi "kemungkinan pengawalan kapal ketika kondisi keamanan memungkinkan."

Langkah ini diambil menyusul laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, termasuk dengan cara menanam ranjau laut.

Baca juga : Minyak Dunia Tembus US$120, G7 Gelar Rapat Darurat Bahas Cadangan IEA

Serangan Drone di Pelabuhan Salalah

Ketegangan semakin memuncak setelah sebuah video yang terverifikasi menunjukkan serangan drone jenis Shahed milik Iran menghantam tangki penyimpanan bahan bakar di Pelabuhan Salalah, Oman. Ledakan besar tersebut memicu kebakaran hebat yang hingga kini masih berusaha dipadamkan oleh tim darurat Oman.

Otoritas Pertahanan Sipil dan Ambulans Oman menyatakan bahwa upaya pemadaman "mungkin memakan waktu yang cukup lama."

Menanggapi insiden di wilayahnya, Sultan Oman Haitham bin Tariq langsung menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sultan menyampaikan "ketidaksetujuan dan kecaman keras" atas serangan yang terjadi, sembari tetap menegaskan posisi netral Oman dalam konflik regional ini.

Baca juga : Kapal Tunda UEA Tenggelam di Selat Hormuz, Tiga ABK WNI Hilang

Di sisi lain, pihak Iran melalui juru bicara angkatan bersenjatanya menyebut insiden di Oman sebagai kejadian yang "sangat mencurigakan" dan mengeklaim tengah melakukan investigasi internal.

Dampak Ekonomi dan Ketahanan Pangan

G7 mengkhawatirkan dampak sistemik dari blokade maritim ini, terutama bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan global. Mereka berencana meningkatkan koordinasi dengan negara-negara Teluk untuk memitigasi risiko ekonomi yang muncul.

Selain pengamanan fisik di jalur laut, G7 juga menekankan perlunya percepatan transisi energi sebagai solusi jangka panjang.

"Situasi ini menyoroti pentingnya mengejar agenda kemandirian energi dan elektrifikasi, guna mengurangi ketergantungan kita pada gejolak geopolitik," tulis pernyataan resmi G7.

Rencana pengawalan kapal ini nantinya akan melibatkan diskusi intensif dengan perusahaan pelayaran, operator pengangkut, hingga perusahaan asuransi untuk memastikan perdagangan tetap berjalan di tengah tingginya risiko keamanan di perairan Timur Tengah. (AFP/BBC/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Staf Khusus KSP Sebut Presiden Akan Sampaikan Taklimat untuk Jawab Isu Geopolitik
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
27 Lapangan Padel di Jakarta Timur tidak Punya Izin
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Harga Minyak Mentah RI USD 68/Barel Awal Maret, Purbaya Belum Berniat Ubah APBN
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Setahun Danantara, Presiden Prabowo Targetkan Pengembalian Aset Rp 800 Triliun per Tahun
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Kondisi Terkini Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Kena Rudal Israel-AS, Ini Penjelasan Putra Presiden
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.