Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memerintahkan untuk menggelontorkan 172 juta barel minyak cadangan strategis nasional (Strategic Petroleum Reserve/SPR). Upaya ini menyusul langkah Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) akan melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat dari 32 negara anggotanya.
Trum mengatakan, keputusan mengalirkan ratusan juta barel ini setelah harga minyak dunia meroket hingga level tertinggi dalam hari belakangan serta kekahwatiran krisis energi. Faktor pendorongnya tidak lain karena konflik militer AS-Israel dengan Iran dan kegelisahan pasar terkiat pasokan energi global.
Menteri Energi AS, Christopher Wright, menyampaikan aksi ini merupakan bagian dari pelepasan cadangan energi secara terkoordinasi oleh IEA bersama negara-negara anggotanya. Minyak akan dimulai pada pekan depan dan proses pelepasan diperkirakan berlangsung selama sekitar 120 hari.
“Selama 47 tahun, Iran dan proksi terorisnya berupaya membunuh warga Amerika. Mereka memanipulasi dan mengancam keamanan energi Amerika serta sekutunya. Di bawah Presiden Trump, masa-masa itu akan segera berakhir,” ujar Wright dikutip dari CBC pada Kamis, 12 Maret 2026.
- CNBC Internasional
Cadangan minyak strategis AS disimpan di gua-gua bawah tanah raksasa di Texas dan Louisiana. Berdasarkan data pemerintah, SPR menyimpan sekitar 415 juta barel minyak hingga pekan lalu.
Secara keseluruhan, IEA mencatat akumulasi cadangan minyak dari negara-negara anggota memiliki lebih dari 1,2 miliar barel.
Harga Minyak Masih Tinggi
Meski pemerintah AS dan IEA kompak mengalirkan cadangan strategis, tetapi pasar minyak global masih tinggi. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 7,5 persen menjadi sekitar US$93,8 atau sekitar Rp1.585.717 (estimasi kurs Rp 16.910 per dola) per barel dikutip dari CNBC Internasional.
Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik sekitar 7,7 persen ke level US$99,1 atau sekitar Rp 1.675.315,23 per barel. Lonjakan harga minyak terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran hampir dua pekan lalu.
Situasi semakin memanas karena aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz hampir berhenti total. Jalur laut strategis ini merupakan salah satu titik distribusi minyak terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global atau sekitar 15 juta barel per hari yang melintasi selat tersebut.





