Relasi Guru–Orangtua Berubah, Perlu Penyesuaian

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Orangtua kini semakin berpusat pada anak dan memainkan peran yang lebih besar dalam berbagai aspek pendidikan, mulai dari memilih sekolah hingga memantau pengalaman belajar anak di lingkungan sekolah. Mereka juga semakin aktif memengaruhi kebijakan di tingkat sekolah.

Para orangtua kian berdaya dan menuntut lingkungan pendidikan yang ramah, aman, dan menyenangkan. Harapannya, anak-anak tidak hanya lulus dengan prestasi akademik yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Pandemi Covid-19 turut mengubah lanskap hubungan antara guru dan orangtua. Keterlibatan orangtua dalam proses pendidikan menjadi semakin intens, termasuk dalam memantau perkembangan belajar anak.

Di sisi lain, cara berkomunikasi antara guru dan orangtua juga semakin terbuka. Dengan akses komunikasi yang nyaris tanpa batas waktu, orangtua—terutama di kota-kota besar dengan kesibukan kerja—tetap dapat memantau perkembangan anak secara langsung melalui informasi dari guru.

Baca JugaGuru dan Orangtua Kompak, Anak Aman dan Nyaman di Sekolah

Grup percakapan WhatsApp, misalnya, yang mempertemukan seluruh orangtua dan guru—terutama wali kelas—kini tidak lagi terbatas pada penyampaian informasi tentang kegiatan siswa. Percakapan yang lebih cair antara guru dan orangtua, bahkan di luar urusan sekolah, juga kerap terjadi.

Cristiana Budiyanti (55), guru SD Katolik Mater Dei Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, yang telah 32 tahun mengajar, mengaku harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar dapat menggunakan aplikasi percakapan di gawai secara efektif. Ia membuat grup diskusi yang beranggotakan para orangtua murid dan berusaha menjawab berbagai pertanyaan hingga sore hari.

“Orangtua zaman sekarang lebih proaktif. Mereka umumnya masih muda dan bergerak sangat cepat. Bahkan ada yang mungkin terlalu cepat. Namun, orangtua juga perlu memahami sampai di mana batasnya,” ujar guru yang akrab disapa Ibu Budi.

Meski demikian, hubungan antara guru dan orangtua tidak selalu berjalan harmonis. Ibu Budi mengaku pernah menghadapi protes dari orangtua murid yang mempersoalkan cara mendidiknya yang tegas dan disiplin—padahal, menurutnya, pendekatan tersebut tetap dilakukan dalam kerangka menyayangi dan membimbing anak.

Orangtua tersebut menilai Ibu Budi telah mempermalukan siswa sehingga berdampak pada kesehatan mental anaknya. Padahal, menurut Ibu Budi, teguran yang diberikan tidak ditujukan hanya kepada satu siswa.

Kasus itu membuat Ibu Budi untuk pertama kalinya berurusan dengan kepolisian setelah dilaporkan oleh salah satu orangtua murid. Peristiwa tersebut sempat viral di media sosial. Namun, pada akhir Januari 2026, penyidikan dihentikan karena laporan terhadap Ibu Budi tidak terbukti.

Perkuat keluarga

Di sisi lain, masih ada orangtua yang mendukung guru dalam mendidik anak. Melly Kiong, pegiat pendidikan keluarga (parenting) sekaligus pendiri Komunitas Menata Keluarga, mengenang pengalamannya pada 2008 ketika anak sulungnya mendapat hukuman dari guru di sekolah.

Alih-alih memprotes, Melly justru menuliskan surat terima kasih kepada guru tersebut. “Saya menghargai guru karena ikut peduli mendidik anak saya. Guru itu bahkan tercengang karena merasa aneh ada orangtua yang berterima kasih ketika anaknya dihukum,” kata Melly.

Jangankan menghukum anak, berbicara kepada siswa saja harus sangat berhati-hati karena bisa dianggap melakukan kekerasan dan berujung laporan ke polisi dari orangtua.

Pengalaman itu mendorong Melly memahami dilema yang dihadapi guru dalam menegakkan disiplin dan pendidikan karakter di sekolah. Dalam berbagai percakapan, sejumlah guru mengaku kini serba salah dalam bersikap.

“Jangankan menghukum anak, berbicara kepada siswa saja harus sangat berhati-hati karena bisa dianggap melakukan kekerasan dan berujung laporan ke polisi dari orangtua,” ujarnya.

Mendengar cerita tersebut, Melly mengaku merasa prihatin. “Saya bertanya dalam hati, apa yang bisa saya harapkan dari seorang pendidik jika mereka justru takut bersikap tegas, padahal tujuannya mendidik anak. Dari situlah saya ingin membantu para guru,” katanya.

Baca JugaGuru di Ujung Dilema

Melly kemudian menulis artikel tentang peran guru yang kerap terbatasi oleh intervensi orangtua murid. Setelah tidak lagi bekerja secara formal, ia aktif menekuni pendidikan keluarga dan mendampingi berbagai sekolah.

Dalam kegiatannya, Melly memperkenalkan konsep mindful parenting atau pengasuhan berkesadaran. Konsep ini tidak hanya ditujukan bagi orangtua, tetapi juga bagi guru, agar tercipta kolaborasi yang lebih harmonis antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak.

Menurut Melly, mindful parenting merupakan konsep pengasuhan yang menekankan kesadaran orangtua dalam berkomunikasi, mendidik, dan mendampingi anak. Dalam pendekatan ini, orangtua diajak menerapkan lima dimensi utama: mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati, tidak menghakimi diri sendiri maupun orang lain, mampu mengendalikan emosi, bersikap adil dan bijaksana, serta menumbuhkan welas asih.

Perspektif berbeda

Pengajar di School of Education, Ben-Gurion University of the Negev, Israel, Tamar Schejter-Cohen, dalam publikasi berjudul “Diagnosing and Treating Parents: A New Perspective on Teacher–Parent Relationships” di jurnal Teaching and Teacher Education: Theory and Practice (2026), menyebutkan bahwa kolaborasi yang baik antara guru dan orangtua berpengaruh penting terhadap keberhasilan siswa selama menjalani pendidikan di sekolah. Namun, upaya membangun kolaborasi dan keterlibatan yang selaras antara guru dan orangtua tidak selalu berjalan mulus.

Padahal, berbagai kajian terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, tingkat kehadiran, perilaku belajar, pengalaman terhadap iklim sekolah, serta kesejahteraan mereka.

Kolaborasi tersebut juga berdampak positif bagi guru. Hubungan yang baik dengan orangtua dapat meningkatkan kepuasan kerja guru, memperkuat persepsi efikasi diri dan kepercayaan diri, serta menumbuhkan emosi positif dan kesejahteraan dalam menjalankan profesinya.

Hubungan antara guru dan orangtua tidak selalu selaras. Perbedaan perspektif, bahkan pertentangan pandangan, kerap muncul. Guru dituntut mengelola kelas dengan menerapkan disiplin dan ketegasan, sementara orangtua lebih menaruh perhatian pada kesejahteraan dan kenyamanan anak.

Dalam praktiknya, sebagian guru merasa otoritas profesional mereka sering diremehkan oleh orangtua. Bahkan, ada guru yang memandang orangtua sebagai sumber perselisihan dan tekanan. Sebaliknya, ada pula yang melihat orangtua sebagai “konsumen” di pasar pendidikan yang harus dilayani dan diakomodasi.

Penelitian tersebut mengidentifikasi setidaknya tiga tipe orangtua yang perlu dipahami oleh guru dan sekolah. Pertama, orangtua yang memiliki hubungan positif dengan guru. Kedua, orangtua yang kerap berkonflik dengan guru. Ketiga, orangtua yang justru diharapkan lebih terlibat dalam proses pendidikan anak.

Cohen menyatakan, dalam berinteraksi dengan orangtua, guru perlu menerapkan keterampilan profesional yang merujuk pada teori profesi Abbott. Keterampilan tersebut mencakup kemampuan diagnosis, penanganan, serta penarikan inferensi dalam memahami sikap dan perilaku orangtua.

Pendekatan ini membantu guru mendiagnosis gaya pengasuhan, menyesuaikan bentuk intervensi, serta menarik kesimpulan untuk mengelola hubungan secara lebih efektif.

“Kami berpendapat bahwa kebutuhan untuk berinteraksi dengan orangtua—terutama yang cenderung ikut campur—serta pengalaman yang dikumpulkan guru akan membentuk persepsi mereka tentang yurisdiksi profesional sebagai pengelola hubungan dengan orangtua. Implikasinya berkaitan dengan pekerjaan guru, legitimasi sekolah di masyarakat, serta pengembangan program pelatihan profesional guru,” kata Cohen.

Baca JugaPerlindungan Guru untuk Sekolah Tanpa Kekerasan

Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Novi Poespita Candra, mengatakan relasi antara guru atau sekolah dan orangtua perlu dibangun melalui komunikasi yang bersifat kekeluargaan. Ketika muncul persoalan, penyelesaiannya sebaiknya ditempuh melalui dialog, bukan dengan saling menuding atau mencari pihak yang bersalah, terlebih ketika masing-masing merasa telah menjalankan kewajibannya.

Menurut Novi, yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), sekolah dan guru perlu memahami latar belakang keluarga siswa yang beragam. Ia mencontohkan pengalamannya ketika anak-anaknya bersekolah di Australia. Di sana, para guru berupaya mengenali kebiasaan keluarga siswa yang berasal dari berbagai negara.

“Sekolah dan guru jadi memahami bagaimana membangun kultur sekolah maupun kesepakatan di kelas yang juga menghargai kebiasaan dan cara berinteraksi sosial keluarga yang berbeda-beda,” ujarnya.

Novi menambahkan, kemampuan guru perlu terus diperkuat agar mampu mendengarkan, memahami latar belakang keluarga siswa, serta membangun dialog yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian, guru dapat membangun hubungan yang komunikatif dan dialogis, baik dengan siswa maupun orangtua.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK: Yaqut Ditahan di Rutan Gedung Merah Putih!
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Geger Dukun Palsu Tipu Warga di Depok, Modusnya Gandakan Uang
• 6 jam laludetik.com
thumb
Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Bahlil Sebut Pemerintah Belum Hitung Tambahan Subsidi
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Disulap dari Bekas Tambang, Bhayangkara Park Jadi Magnet Wisata di Babel
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Kasus Kuota Haji, KPK Ungkap Ada Fee Percepatan Rp42 Juta hingga Rp84 Juta
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.